top of page

Acerca de

Golden Rose

Genre: Drama Romance | Hurt Comfort | Alternate Universe | Harem

Rating: R21

Pairing: (mainly) Levi x Eren

Summary: Raja yang kontroversial, dengan budak laki-lakinya, dalam bayang-bayang kehidupan istana emas.

 

Author Note:

Harem berarti budak, istri simpanan, selir. Latarnya mengikuti gaya timur tengah di jaman abad ke-15, tapi tetep mengambil setting tempat dunia snk. Ada maria, rose, sina, dll. Lahannya tanah gersang, lautan luas, padang pasir.

​

Co-written by: Aratte & AsakuraHannah

Fanfik ini adalah hasil RP dan collab kami berdua. Paragraf demi paragraf kami tulis bergantian saling sambung menyambung hingga membentuk cerita.

​

Fanfik Golden Rose mendapatkan penghargaan "Best Hurt/Comfort MC Fanfiction" pada ajang penghargaan IFA 2014. Atas dukungannya, kami ucapkan terima kasih.

​

Disclaimer: Shingeki no Kyojin/ Attack on Titan belongs to Hajime Isayama. We take no profit. I don't own Shingeki no Kyojin, but this fanfiction is mine. © AsakuraHannah

Chp 1 | Chp 2 | Chp 3 | Chp 4 | Chp 5 | Chp 6 | Chp 7 | Chp 8 | Chp 9 | Chp 10 | Chp 11 | Chp 12 | Chp 13 [END]

Chapter 3: Nyawamu Milikku

​

Shiganshina terbakar terik matahari.

​

Burung elang bermata tajam terbang tinggi di atas dinding-dinding setinggi belasan meter. Tampak dari bawah matanya terbentang kompleks perumahan penduduk berbentuk petak-petak. Jalanan rusak, terabaikan dipenuhi onggokan kerikil dan sampah bercampur pasir. Sang elang mendarat di atas atap salah satu rumah, menumpahkan kotorannya di sana.

​

Di bawah atapnya, Armin dan Mikasa sedang bersantap siang.

​

Suasana rumah sangat tidak nyaman.

​

Sudah dua hari semenjak Eren tidak kunjung pulang. Armin menatap cemas sang gadis, pandangannya pindah pada piring nasi yang belum disentuh gadis itu. Armin mendorong ujung piringnya, membuat gadis berambut hitam itu mendongak.

​

"Mikasa, aku tahu ini sudah dua hari. Eren mungkin ada di suatu tempat. Kita melihat ada pecahan guci di bagian samping penginapan yang selalu dilewatinya, kita sudah menyelidikinya namun tidak menemukan jawaban lebih. Aku yakin Eren masih hidup, jangan khawatir. Perasaanku mengatakan demikian." Bocah berambut pirang itu menatap saudari teman baiknya. mata birunya memancarkan rasa percaya yang tinggi.

Mikasa duduk merosot pada kursi kayu. Lalat padang pasir mengerumuni potongan buah-buahan di atas meja makan. Mikasa menangkap salah satu hewan itu dengan kecepatan di atas rata-rata, membunuh di dalam kepalan tangannya, emosi.

​

"Aku takut, Armin," kata gadis itu. "Mungkin dia terkena masalah. Dia mencuri lalu tertangkap. Mungkin dia dihukum. Mungkin dia dijual menjadi budak! Budak di pasar, budak kapal, budak rumah tangga, dijual entah ke mana dan disakiti. Lagi pula dia itu berdarah Eropa. Kukira orang asing blasteran banyak dicari pedagang budak. Aku ingin mencari Eren!"

​

Mikasa mengalungkan syal merah tuanya hingga menutupi bibir. Ia berlari menggebrak pintu keluar, berhadapan dengan jalanan berbatu-batu dan lahan gersang berasap di bawah terik matahari.

​

Armin beranjak bangun, mencoba untuk menghentikan sang gadis dan berlari mengejarnya. Apa boleh dikata, Mikasa gadis yang tidak bisa menahan diri apabila berurusan dengan Eren.

​

Pada pinggiran jalan lintas menuju pasar kecil, pandangan terganggu oleh buletin baru yang dipampang di dinding distrik. Matanya membesar melihat penjelasan dan lukisan Eren pada buletin itu. Armin merobek buletin itu dan membawanya untuk ditunjukkan kepada saudari Eren itu. Temannya sudah ditangkap dan dijual menjadi budak harem. Kepalan tangannya bergetar. Dia berteriak memanggil sang gadis yang sudah hilang dari pandangan.

​

“Mikasa!”

​

Tahap awal pencarian Eren adalah menghubungi orang-orang yang bersangkutan dengan pergadangan budak di dunia bawah tanah.

​

-----

 

Istana harem terpisah dengan kerajaan utama oleh alun-alun di atas tebing yang mengarah ke lautan lepas. Koridornya bersulam emas permata, lantainya tersusun dari bebatuan alam mengkilat hasil karya tangan-tangan seniman tersohor. Langit-langit dan dindingnya diisi butiran manik delima dengan ukiran meliuk abstraksi motif dedaunan. Aroma wangi air jeruk dan mawar disemprotkan ke setiap sudut koridor, yang bersih dari debu yang tidak disenangi sang raja. Sangat megah dan besar, tetapi tertutup dari dunia luar sebagai sangkar burung cantik raksasa.

 

​

Para harem sang raja tidur hidup dalam kemewahan, dirawat dan dipelihara oleh para pelayan bertangan dingin, dijaga pengawal-pengawal bisu tuli yang bersiaga di balik pilar-pilar emas. Budak laki-laki dipisah dengan harem wanita, diberi ruangan khusus beristirahat dan tugas-tugas khusus memasak, menjahit, mencuci, merawat kuda, membuat ramuan serbat, memetik tumbuhan herbal dan menjaga agar istana tetap bersih. Beberapa dari mereka menarik perhatian rajanya yang kontroversial, ditempatkan dalam kamar-kamar terbaik dan diberi titel ‘Favorit.’ Sehari-hari diisi dengan keceriaan dan percakapan seadanya, berlomba dan bersaing, hidup di istana berlandas harapan sampai raja mau melirik mereka.

​

Petra Ral berjalan sepanjang koridor bertatahkan mirah, membawa baki perak berisi sepiring nasi dan segelas serbat. Jubahnya berwarna biru langit dengan sedikit bordiran minimalis. Rambut berwarna cokelat jahe, sehalus sutra dan berayun pelan ketika ia melintasi sepasukan pengawal istana. Petra disebut pelayan harem paling anggun seistana. Pertemuan pertama sang ketua penjaga harem dengannya adalah kekaguman sekaligus kekecewaan. Tak ada yang merasa ia pantas berada dalam lingkungan minoritas sebagai seorang perawat dan pelayan budak harem. Petra pantas menduduki posisi harem sang raja.

​

Ia mengetuk pintu kamar Eren tiga kali, lalu masuk ke dalam. "Eren?"

​

Si harem hijau yang beruntung itu sedang duduk di sisi ranjang, wajah tertunduk dengan helaian rambutnya jatuh mengisi pipi, tak terlihat. Petra meletakkan makanan di sampingnya.

​

"Selamat, Eren," ucapnya. "Mulai hari ini kau akan menempati kamar baru sebagai salah satu harem favorit sang raja. Kau akan diberi kamar satu lantai dengan ruang peristirahatannya." Petra menghela napas, tersenyum. "Eren?"

​

Pandangan Eren fokus pada gelang yang melingkar di kakinya. Dia teringat malam di saat Sang Raja mencoba untuk menyatukan diri dengannya. Eren mencengkeram jubahnya yang baru, disiapkan ketika dia bangun dari tidurnya dalam keadaan telanjang dan hanya selimut yang menutupi tubuhnya yang dingin. Eren menggigit bibirnya, dia tidak tahu harus bersikap apa kepada Petra. Tentunya gadis itu lebih mengetahui apa yang harus ia lakukan, atraksi macam apa yang harus ia berikan kepada sang raja. Keinginan untuk bertanya itu sirna ketika hidungnya mencium bau harum nasi.

"Kamar baru? Aku... telah mengecewakan Raja semalam, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Kenapa aku diberi anugerah jubah berkelas dan kamar baru? Aku tidak mengerti apa pikiran Raja." Eren menggumam, menghela nafas. Dia beranjak turun dari tempat tidurnya, melempar pandangan sedih kepada gadis itu, meminta usul.

​

Dahi Petra berkerut. "Mengecewakan? Apa terjadi sesuatu?" Petra duduk di sebelah Eren, memandang cemas, walau wajahnya tetap mengumbar keramahan. "Memangnya semalam bagaimana? Hei, kudengar sang raja sangat bes-- ups." Petra menutup mulutnya. "Abaikan, hahaha. Ini hanya rumor di antara para harem! Tapi apapun yang terjadi, jangan menyalahkan dirimu. Raja sudah memilihmu!"

​

"Aku hanya bingung bagaimana membuat raja senang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Itu saja. Apa ada trik agar aku bisa memuaskannya? Aku... belum pernah melakukan ini..." Eren menggenggam sendok, menatap refleksinya pada sendok emas itu. "Apa aku boleh keluar untuk menyegarkan pikiranku? Aku ingin menuju pinggiran taman di mana aku bisa melihat laut." Eren mendongak, berharap pelayan itu mengizinkannya. "Apa aku diberi kebebasan untuk mengelilingi istana?"

​

"Kau diberi kebebasan berkeliling istana harem, tapi tidak sampai ke dalam pekarangan istana pribadi sang raja. Tapi sekarang kau adalah harem pilihannya jadi kurasa sah saja." Petra memutar bola matanya. "Yah, tapi tetap ada batasan. Banyak pintu yang tidak boleh dibuka. Tapi kalau hanya ingin melihat laut saja tentu bisa dari kejauhan. Aku bisa menemanimu ke balkon taman di atas."

​

Eren menghela nafas, menyendok nasi yang sudah dibuatkan untuknya. Rasa antusiasnya bangkit ketika Petra mengusulkan agar ia menemani Eren ke balkon taman untuk melihat laut.

​

“Dan, oh, pertanyaanmu tadi ya..." Pipi gadis itu merona samar. "...aku hanya bisa menyarankanmu untuk mengikuti setiap permintaan sang raja dan tidak menentangnya. Itu saja."

​

Eren teringat permohonannya agar Raja berhenti, tidak hanya dengan kata-kata, namun tubuhnya juga menolak keras. Akibatnya dia menjadi murka dan diusirnya Eren keluar.

​

"Baiklah, mungkin laut bisa menenangkan pikiranku. Tapi... apa jubah tembus pandang ini harus kupakai saat aku pergi ke laut? Apa tidak akan mengundang perhatian?" Wajah Eren memerah, memandang jubah baru yang lebih banyak ornamen dan batu mulia. Namun kain itu seperti di desain khusus untuk mata sang raja karena bahannya yang bisa menerawang.

​

Petra terkikik sambil menutupi mulutnya dengan lengan jubah. "Kau ini menggemaskan, Eren!" kata gadis itu, mengangkat tangan seperti ingin mencubit pipi Eren, tapi menahan diri. "Tentu saja, ini hanya berupa pakaian dalaman. Aku akan meminta pelayan jubah untuk memberimu jubah luaran."

​

Untuk kesekian kalinya Petra mendorong piring emas itu. "Cepat makan lalu kita melihat laut bersama-sama. Kau boleh bercerita padaku apa saja. Aku ini pelayan dan juga temanmu, Eren."

​

Eren menyendok nasi, kali ini mematuhi sang pelayan.

​

Petra tidak berhenti berbicara. "Kau tahu tidak, Eren? Para harem dalam istana ini hampir tidak pernah melihat Yang Mulia raja," terang Petra. "Bahkan sebenarnya 90% dari para harem tidak pernah melihat dan tahu bagaimana wajah sang raja sebelum kemunculannya di taman mereka. Kalau aku hanya pernah tak sengaja melihat dari jauh." Petra seperti sedang melamun sejenak, lalu dia tersenyum. "Kau beruntung, Eren. Raja memang menyukai laki--uhuk."

​

Petra tidak bertanya-tanya lagi, mengambil piring kosong Eren dan meletakkannya di atas baki. Ia tersenyum. "Oke? Kita pergi ke taman sekarang?"

Eren mendongakkan wajahnya, terkejut karena Petra mengizinkannya keluar kamar. Dia segera beranjak bangun, mengikuti Petra keluar. Melayangkan pandangan ke kiri dan kanan ketika dia keluar kamar, Eren gugup pada keadaan sekitarnya.

​

Entah kenapa ia sangat takut apabila sang Raja mendapatinya keluar kamar. Deru ombak terdengar di kejauhan, sang pelayan menggiringnya ke arah yang diinginkannya untuk melihat laut. Eren menyadari bahwa itu adalah taman saat pertemuan pertamanya dengan Raja.

​

Petra membawa Eren ke sayap kanan istana, menggiring ke sebuah tangga mungil yang berputar spiral. Di atasnya adalah balkon berbentuk taman, dengan rumput dan tumbuh-tumbuhan yang ditanam. Aroma bergamot menusuk hidung, berbaur dengan udara laut yang menghempas batu-batu karang dari kejauhan. Eren bisa melihat biru dan hijau horizon lautan dari atas sini.

​

Mereka tidak sendirian.

​

Sang raja duduk di kursi taman, menatap laut, mengenakan jubah brokat merah keemasan dengan pakaian dalaman sutra putih. Ia nampak sedang berkontemplasi. Hempasan angin laut membuat rambutnya bertiup pelan.

​

Saat Eren menoleh kepada Petra, wanita itu sudah mundur menghilang.

​

Panik, Eren melangkahkan kaki mundur perlahan, takut apabila sang raja melihatnya.

​

Dia bisa menangkap gambaran sang raja dengan wajah yang tampan dari samping. Pandangan jauh ke depan seperti memikirkan sesuatu yang rumit. Eren sadar bahwa pria penuh wibawa itu bisa bertindak keji suatu waktu. Keadaan yang saat ini dilihatnya nampak berbeda di saat Levi mengusirnya keluar kamar. Eren melempar pandangan sedih, dia takut mendekati sang kuasa. Namun pandangan yang tampak kesepian itu membuat hatinya terpana. Rambut hitam yang kelam itu tertiup angin, melambai pelan, mata keabuan itu bersinar kelam. Eren menggigit bibirnya, tangannya seraya mencengkeram dadanya yang berdenyut aneh. Dia hendak memutar badannya ketika sang Raja memanggil.

​

"Eren."

​

Levi menoleh pelan, kalem penuh ketenangan. Ekspresinya 180 derajat berbeda dengan yang semalam, tapi tetap dingin, tetap mencekam, dan penuh kuasa bahkan lautan lepas itu pun seperti berada dalam jangkauannya.

​

Tangannya memberi gestur agar Eren mendekat, memintanya duduk di sampingnya.

​

Meskipun otaknya tidak menginginkan dirinya mendekati sang raja, kakinya berhenti tepat di sebelah Levi. Dia duduk tanpa kata, memberi jarak sedikit dari pria itu.

​

"Kau takut padaku, hh? Mendekatlah lagi. Kau haremku." Levi mengulangi gestur tangannya, kali ini suaranya tidak sabaran.

​

Eren tidak berani menolak, takut Levi mengusirnya lagi. Dia tidak ingin dikasari, sedikit demi sedikit, dirinya bergeser sampai pundaknya bersentuhan dengan pundak Levi. Matanya terus memandangi bebatuan di bawah sandalnya yang penuh berlian, tidak berani bertatap muka. Jantungnya berdegup cepat, merasakan tangan Levi menyentuh pahanya.

​

Tangan Levi bergerak ke balik jubah luaran Eren, menyelinap masuk ke dalam jubah tipis transparan yang dibuat untuk memanjakan matanya. Tubuh bocah itu gemetar pelan, tapi bertahan. Levi menggesek tangannya sepanjang paha itu, di setiap gesekan menarik terbuka jubahnya.

Ingatan tentang kemarahannya semalam membuat dahi Levi berkerut.

​

Levi menarik tangannya dari tubuh hangat itu, berdeham, "Bagaimana perasaanmu."

​

"Mnggh nggh... Yang Mulia..." sentuhan pelan membuatnya bergetar, Eren menggigit bibirnya, matanya difokuskan akan garis horizon yang jauh di depan mata. Dia bisa merasakan pandangan menusuk dari sang Raja. Pertanyaan itu dilontarkan kepadanya, nadanya berkesan tidak tertarik.

​

"Aku... baik-baik saja" Eren berbohong. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja setelah malam itu. Dia bahkan tidak berani memandang sang kuasa, tahu bahwa dirinya bisa dengan mudah dihabisi apabila dia bersikap lantang  lagi.

​

"Kau tidak perlu takut padaku, Eren. Aku tidak pernah berniat menyakiti haremku," kata sang raja, kemudian biji mata hitam itu menggelap di bawah bayang-bayang dedaunan poplar. "Tapi seorang pembohong, aku tidak akan pernah bisa menolerir mereka. Sudah ratusan hingga ribuan kepala pendusta yang kucabut dari pangkal lehernya dengan tanganku sendiri Eren. Sudah banyak darah mereka yang tumpah di tanahku."

Melihat Eren bergidik takut, Levi mendengus.

​

"Karena itu jangan berkata bohong padaku, aku ingin kejujuran dan ketulusanmu."

​

"A... aku... takut... Yang Mulia marah lagi. Aku tahu aku tidak seharusnya menolak, tapi, aku tidak pernah berpengalaman dalam hal seperti itu. Aku perlu penjelasan yang detail. Menyatukan diri seperti itu..." Wajah Eren terasa terbakar, dia menunduk, menggesekkan lututnya tidak nyaman. Dia bingung harus berkata apa. Dirinya tidak tahu apakah dia harus meminta kejelasan pada sang kuasa. "Apa... yang seharusnya kulakukan... Yang Mulia..."

​

Levi mendengus. "Kau perlu penjelasan mendetil?" Tangannya merayapi kembali tubuh hangat itu, kali ini menggesek atas bawah punggungnya. "Penjelasan mendetil bahwa aku akan memasukkan bagian diriku dan kau harus membuka dirimu untuk menerimaku, dengan bahasa vulgar yang kau suka? Kau harem yang menarik dan tidak sepolos bayanganku."

​

"Aku tidak bermaksud seperti itu... Tapi, aku perlu bimbingan pada saat kau melakukannya. M-mungkin... di saat Yang Mulia melakukannya... Itu... jika Yang Mulia masih ingin mencoba... Tapi... rasanya sakit sekali..." Eren mengatupkan mulutnya, jantungnya berdegup kencang.

​

Levi bisa mendengar degupan kencang bocah itu, dengan alasan tertentu, ia menyukai iramanya. "Kau laki-laki ‘kan? Sedikit rasa sakit seharusnya menjadikanmu kuat. Kulihat pancaran berani di dalam matamu bocah, ke mana perginya sikap tangguh itu?" tuturnya. "Dan aku tidak akan berhenti mengklaim apa yang menjadi hak milikku. Aku menginginkanmu, Eren. Dan aku tidak mau dengar kata tidak."

​

Eren memandang rajanya, rasa lapar terpancar pada mata Levi. Eren menunduk dengan wajah memerah. "Aku laki-laki, aku berani pada saat perlu. Tapi, ini menyangkut nyawaku."

​

Dagu Eren ditarik, dipaksa untuk beradu mata dengan Levi. Mata zamrud itu membelalak, wajah sang raja sangat dekat dengannya beberapa inci.

"Nyawamu milikku," bisik Levi di depan bibirnya. "Dan selama itu berada di dalam genggamanku, kujaga kau baik-baik."

​

Levi menjauhkan lagi wajahnya, melepaskan Eren yang sedang berdebar kuat.

​

"Tunjukkan kalau kau ini memang bocah lelaki yang hebat," pinta Levi, tapi ketertarikan hilang di wajahnya.

​

Wajah Eren tidak memandang tidak percaya. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Mencoba mengingat apa yang Levi lakukan padanya saat malam pertama, Eren meneguk ludah. Sang raja mengawasi tidak tanduknya, tangan Eren gemetar. Dia meraih fabrik satin yang dikenakan Levi, menjamah bagian depan sang kuasa. Mengelus singkat dengan wajah terbakar malu, tangan Eren ditarik untuk menjamah lebih keras.

​

"Ini caramu mengungkap keberanian, bocah? Di tempat publik? Tamanku adalah taman pribadi. Tapi ada pengawal di setiap sudutnya yang sejak tadi mengintip ke arah sini." Berkata demikianpun, Levi masih menahan tangan Eren untuk menekan bagian dirinya di balik jubah tebal.

​

"Yang Mulia memerintahkanku untuk bersikap berani. Aku... hanya ini yang aku bisa pikirkan. Apabila berkenan, izinkan aku melakukan seperti... seperti yang Yang Mulia lakukan padaku kemarin malam."

​

Tangan Eren meremas pelan, dirinya membuat gerakan mengocok, persis seperti yang dilakukan Levi saat malam pertama mereka. Matanya bertemu dengan mata raja, nafasnya mulai memburu, merasakan organ besar itu menegang di bawah jarinya. Rambut Eren dijambak, bibirnya dilumat oleh bibir hangat itu.

​

Levi kelaparan mencicipi bibir hangat itu. Dia mulai gila karena perang dan kelaparan. Tak ada yang istimewa dari Eren kecuali dia adalah bocah lelaki, bertampang ingin cari ribut, mata yang indah dan tubuh yang membuatnya bergairah. Levi punya ratusan harem dan jika ia menginginkannya, ia bisa membentuk istana harem laki-laki untuk asupan syahwatnya sendiri. Tapi Eren--bocah itu muncul saat dia benar-benar sedang kelaparan.

Levi membuka jubah luar Eren, dan dengan kedua tangannya mengoyak jubah tipis bocah itu.

​

Pengawal bisu tuli mungkin sedang mengintip dari balik pilar dan semak-semak.

​

Sobekan kain terdengar. Eren  melonjak terkejut, melingkarkan lengannya pada tubuhnya sendiri. "Aah Yang Mulia..." perkataannya dihentikan oleh sang raja ketika dia dipaksa berlutut, wajahnya dibenamkan pada selangkangan pria itu. Eren memekik terkejut, rona merahnya mencapai telinga. Bibir Eren gemetar, dia bisa mencium aroma yang menguar dari sang kuasa. Levi menarik keluar bendanya, menggesekkannya bibir Eren tidak sabaran.

​

"Nnggh.. mmh" Eren membuka mulut, lidahnya menjilat takut-takut. 'Besar...' Eren membatin.

​

Ini dia mulut bocah yang selalu berkicau ribut. Hanya dia yang bisa membungkam dan menundukkan bocah itu. Itukah yang membuatnya bergairah dengan si monster cilik ini? Dua buah bibir kemerahan, dan lidah kemerahan bergerak dengan gugup. Levi menikmati pemandangannya dari atas.

Lidah Eren menjilat pelan dari pangkal, perlahan naik ke atas. Dia memberikan kecupan pada setiap gerakan naik turun. Memasukkan tumpul Levi ke dalam mulutnya, Eren merintih, merasakan besarnya organ yang susah payah diemutnya. Hanya dengan mulutnya saja susah dimasukkan, bagaimana dengan bokongnya?

​

"Nnggh... mmn..." Eren menghisap pelan, berusaha mengatur nafasnya.

​

Levi membiarkan Eren belajar. Ia duduk dengan siku tangannya bertumpu pada pegangan bangku taman, memiringkan kepalanya dan berwajah datar. Rongga hangat mulut itu sempit, cukup membuat darahnya berdesir cepat di areal pangkal paha. Tapi belum cukup hebat untuk memuaskan ledakan gairahnya. Levi baru setengah mengeras sementara mulut itu berusaha menelan dengan kesusahan.

​

Levi menghela napas, menarik kepala Eren. Untaian benang menyatu antara miliknya dan bibir merah itu. Bocah itu nampak cemas.

​

"Sudah cukup," kata Levi. "Naik ke pangkuanku."

​

Eren mendongak, dia mematuhi perkataan Levi. Beranjak untuk naik ke pangkuannya, Eren memandang cemas. Tatapan yang diberikan Levi padanya membuatnya tidak berani menatap lama. Duduk di atas pangkuan sang raja, Eren sesak nafas, tidak yakin bahwa dirinya bisa bertahan lama dengan sentuhan yang diterimanya.

​

Levi merengkuh haremnya, menyelimuti bagian bawah tubuh bocah itu dengan jubah luarannya, menghalangi setiap pandangan pengintip. Diremas bokong si bocah, dibuka lebar-lebar. Badan Eren diturunkan hingga bertemu dengan bagian dirinya, bergesekan di antara pipi kenyal itu.

"Gerakkan pinggulmu. Gesekkan milikku di antara bokongmu."

​

Eren mengatupkan mulutnya, jeritan tertahan keluar. Eren tidak berani berkata tidak, milik sang kuasa bergesekan dengan pipi bokongnya saat dia menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang. Rasa lengket yang keluar dari tumpul benda membuat gerakannya semakin licin, Eren merintih ketika Levi membantu menggerakkan pinggulnya lebih cepat.

​

"Aaah hnnng... Yang Mulia..."

​

"Hm? Apa yang kau rasakan?" pancing Levi, meremas bokong itu lebih kuat dan menuntun geraknya. Di bawah sana dia mulai keras, berdenyut kuat di antara celah hangat dua bantalan daging seperti roti terigu itu. Levi mendengus, mengecup leher Eren lekat-lekat. "Mana mulutmu yang biasanya berisik itu? Aku ingin mendengar apa yang kau rasakan."

​

Banyak pasang mata menangkap aktivitas keduanya. Levi tidak peduli.

​

"Aaah... Yang Mulia... aaanggg" Eren mulai bersuara, pipinya yang basah dan lengket itu menggesek semakin kuat. Eren memandang sang raja dengan tatapan penuh gairah. "Rasanya... nikmat..." Eren berbisik gemetar, merasakan badan pedang sang raja menggoda pintu masuknya. Eren menjilat bibirnya yang kering, tersengal menarik nafas.

​

"Kau merasa nikmat hanya dengan menggesekkan bokongmu ke bagian diriku?" Levi tergelak tawa, menepuk pinggul bocah itu sampai bergetar. Harem yang satu ini sangat bisa menjadi hiburan menarik. "Katakan apa lagi yang bisa membuatmu merasa nikmat, Eren." Levi dengan sengaja menyentuh liang hangat milik bocah itu. "Aku ingin mengenalmu lebih lagi."

​

"Aaah hhnn... Yang Mulia..."

​

Sentuhan basah pada pintu masuknya yang masih sempit itu membuat sang bocah berkutat pada pangkuan sang raja. Eren menggigit tangannya, berusaha untuk tidak mengeluarkan terlalu banyak suara.

​

"Aku... tidak pernah melakukan ini sebelumnya, jadi aku tidak tahu banyak. Ta-mnnh... Tapi, aku cukup merasa enak saat Yang Mulia menyentuhku kemarin. Masih ingat dengan gerakan tangan Yang Mulia. Aku masih ingat rasa sakit... hnngg..." Eren melonjak ketika tumpul basah Levi berhenti tepat pada lubang mungilnya. Eren membelalakkan mata, teringat akan rasa nyeri pada saat Levi ingin masuk. Dia menggigit tangannya lebih keras, hampir membuat kulitnya yang sudah mulus itu berdarah.

​

Mencium aroma darah, mata Levi menggelap, ditariknya tangan Eren, diremas kasar, membuat bocah itu memekik kesakitan. "Hentikan perbuatanmu itu," bentak sang raja, marah di luar kemauannya. Wajah tampan itu berkerut jijik, ia mendekap tubuh haremnya dan mengangkatnya.

​

Eren digeletakkan di atas bangku, sementara Levi berdiri. Jubah emas merah berkilauan pekat di bawah sinar surya, kontras dengan wajah sang raja yang sedikit berlumur peluh, dengan pipi yang agak memerah karena aktivitas mereka barusan. Levi menggertakkan gigi, menarik napas dalam-dalam dan menoleh kepada Eren.

​

"Kutunggu kau malam ini, bocah."

​

Sang raja berlalu melewati pilar-pilar istana, menghilang ke balik pintu raksasa.

​

TBC

© AsakuraHannah
bottom of page