top of page

Acerca de

Golden Rose

Genre: Drama Romance | Hurt Comfort | Alternate Universe | Harem

Rating: R21

Pairing: (mainly) Levi x Eren

Summary: Raja yang kontroversial, dengan budak laki-lakinya, dalam bayang-bayang kehidupan istana emas.

 

Author Note:

Harem berarti budak, istri simpanan, selir. Latarnya mengikuti gaya timur tengah di jaman abad ke-15, tapi tetep mengambil setting tempat dunia snk. Ada maria, rose, sina, dll. Lahannya tanah gersang, lautan luas, padang pasir.

​

Co-written by: Aratte & AsakuraHannah

Fanfik ini adalah hasil RP dan collab kami berdua. Paragraf demi paragraf kami tulis bergantian saling sambung menyambung hingga membentuk cerita.

​

Fanfik Golden Rose mendapatkan penghargaan "Best Hurt/Comfort MC Fanfiction" pada ajang penghargaan IFA 2014. Atas dukungannya, kami ucapkan terima kasih.

​

Disclaimer: Shingeki no Kyojin/ Attack on Titan belongs to Hajime Isayama. We take no profit. I don't own Shingeki no Kyojin, but this fanfiction is mine. © AsakuraHannah

Chp 1 | Chp 2 | Chp 3 | Chp 4 | Chp 5 | Chp 6 | Chp 7 | Chp 8 | Chp 9 | Chp 10 | Chp 11 | Chp 12 | Chp 13 [END]

A/N: Mohon maaf atas keterlambatan untuk fic ini berlangsung. Saya AsakuraHannah, yang melanjutkan fic ini, dikarenakan Aratte tidak dapat meneruskan karena sudah terlalu banyak projek menumpuk. Untuk beberapa informasi penting akan mulai dijabarkan dari chapter ini, termasuk seluk beluk istana yang nantinya akan berguna di chapter mendatang. Mungkin ada beberapa detail yang membingungkan akan dijelaskan melalui denah gambar. Untuk saat ini, kuharap para pembaca bisa menikmati fic yang telah lama tertinggal kembali ke permukaan.

 

Chapter 6: Keseharian

​

Eren menatap Sir Erwin yang tengah menghukum para pengawal yang baru saja menyentuhnya. Terutama Jean yang hampir mengambil seorang budak, dia hanyalah milik raja. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa seorang yang lain akan menyentuhnya seperti itu. Apakah dia selemah itu sehingga harus dilindungi setiap saat. Tangannya mengepal kesal.

​

"Tidak akan ada makan malam bagi kalian sampai seminggu ke depan. Kalian juga akan dipisahkan dari tim reguler dan akan bergabung dengan prajurit baru." Erwin mengangkat tangannya, bawahannya menggiring mereka pergi.

​

"Kau tidak apa-apa, Eren?" Erwin menatap bocah yang masih terduduk. Bocah itu mengangguk pelan, tidak mampu berkata-kata. Seorang harem raja seharusnya dilindungi oleh banyak bodyguard, untuk mencegah kejadian semacam ini. Saat ini dia bukanlah lagi harem, dia salah seorang prajurit yang harus membela dirinya sendiri. "Ya, aku baik-baik saja..." katanya pelan, berusaha untuk tampil tegar di hadapan pria yang telah mengeluarkannya dari perbudakan. Dia tidak ingin mengecewakan dan menyusahkan Erwin dengan kelemahannya.

​

Erwin tersenyum. "Baiklah, jika kau berkata begitu... dia hampir saja..." Erwin berhenti. Dia menepuk pundak Eren, menariknya berdiri dan menggandeng tangannya. "Aku akan memanggil dokter dan pelayan untukmu. Kau istirahatlah di kamarku untuk sementara ini." Erwin berkata.

Eren mengangguk, menyetujui tanpa berpikir dua kali.

​

Malam itu, Eren tidur nyenyak setelah dirawat oleh dokter pribadi Erwin dan para pelayan yang mengurusinya.

​

Erwin menatap wajah tidurnya, tersenyum singkat."Kau banyak gunanya, aku tidak mungkin menyingkirkanmu begitu saja."Dia bergumam, merebahkan dirinya di ranjang, menarik Eren ke dalam pelukannya. Bibirnya menyungging tipis. Jemarinya menelusuri kulit lembut yang biasa dirawat oleh para pelayan raja. Rambutnya yang semula wangi kemenyan mulai tercampur dengan wangi matahari.

​

"Tidurlah dengan nyenyak selagi kau bisa." Erwin berbisik.

​

-----

​

Petra berjalan menyusuri kamar-kamar para harem, melihat ke belakangnya. Beberapa pelayan baru yang lolos tes membaca dan menulis mengikutinya dengan pandangan terkesima akan kemegahan istana harem. Salah satu dari para gadis itu adalah Mikasa. Mata gadis itu sibuk hilir mudik menelusuri koridor yang dilaluinya. Petra menyadarinya dan tersenyum.

​

"Tidak usah takut tersesat, kau akan hafal sendiri keadaan sekeliling jika kau membersihkan kamar-kamar para harem nantinya." Mata biru Petra bertemu Mikasa, dia mengangguk singkat.

​

Petra berhenti tepat di sebelah tiang tinggi dengan berbagai macam lambang. Dia menghadap para pelayan baru. "Baiklah, mungkin akan sulit, tapi kalian harus menghafal beberapa tugas rutin. Perlahan saja. Aku sendiri hafal karena sudah bertahun-tahun di sini. Lambat laun kalian juga pasti akan hafal. Tugas kalian untuk saat ini hanyalah melayani beberapa harem inti dan membantu menjaga kebersihan dalam istana ini dan istana inti." Petra menunjuk kamar di samping kirinya. "Kemudian kalian akan dibagi menjadi tim untuk tugas wilayah istana. Masing-masing kelompok dapat bergilir untuk membersihkan bagian kalian. Akan ada wilayah timur, barat, selatan dan utara. Untuk menghafal bagian mana sesuai arah mata angin, kalian bisa melihat lambang pada masing-masing wilayah. Lambang kuda, dua mawar, pisau kembar, dan sepasang sayap." Dia menunjuk lambang-lambang yang tepat berada di atas kepalanya.

​

Mereka lanjut berjalan mengikuti ruangan di sisi koridor. Beberapa harem yang mereka lalui tersenyum singkat, yang lain tampak cuek dan tidak peduli. Pelayan baru mengikuti Petra yang mulai menunjukkan mereka masing-masing ruangan. "Raja tidak mau setitik debu pun terlihat. Ruangan ini dilengkapi dengan berbagai alat kebersihan. Ada beberapa ruangan kebersihan lain di setiap sudut koridor." Petra membuka ruangan yang dipenuhi dengan alat-alat seperti sapu, pel dan ember-ember air juga berbagai alat kebersihan lainnya.

​

Salah satu dari pelayan mengangkat tangannya. "Apakah kita boleh makan sambil membersihkan? Maksudku, jika lapar." Gadis berambut coklat itu menanyakan tanpa menungguijin bertanya.

​

Petra mengerjap pada pertanyaannya kemudian terkekeh."Itu tidak diperbolehkan, Sasha." Gadis itu tampak kecewa.

​

"Apakah ada pertanyaan lagi?"

​

Mikasa mengacungkan tangannya. "Apa kita boleh mengetahui nama-nama para harem di istana ini?"

​

Petra tersenyum. "Kau akan hafal dengan sendirinya nanti. Harem raja sangat banyak, kau tidak mungkin bisa hafal nama mereka dalam sehari." Petra tertawa. Dia mengambil peralatan kebersihan dan membagikannya pada mereka. "Untuk sebulan ini ikuti saja rutinitasku." Pelayan itu menutup pintu ruang bebersih, mengisyaratkan para pelayan baru untuk mulai bebersih.

​

Mikasa menunduk, dia menggenggam erat sapu yang dibawanya.

​

'Eren… Aku sudah masuk istana, kuharap aku bisa segera bertemu denganmu dan membawamu keluar.'

-----

​

Eren terbangun, menyeka matanya, menghilangkan rasa kantuk. Beranjak dari tempat tidur Erwin, dia melihat berkeliling. Semalam dia dapat tidur dengan nyenyak, merasakan kehangatan menyelubunginya. Penasihat kerajaan itu sepertinya sangat lembut terhadapnya. Mungkin, di tangannya Eren bisa menjadi lebih kuat.

​

Sekilas ingatan mengenai kejadian semalam membuatnya bergidik. Dia tidak ingin lagi hal itu terjadi. Apa aman jika dia keluar sekarang? Erwin bilang mereka tidak akan berani macam-macam padanya. Dia memeluk tubuhnya, berusaha untuk melupakan sentuhan yang dilakukan oleh pria jangkung itu. Apa pun yang dipikirkannya sekarang, dia sudah tidak dapat kembali ke istana harem. Jika dia kembali dia tidak akan bisa bertemu dengan kedua sahabatnya lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Jika kembali mungkin dia akan dipancung. Eren menggeleng kepalanya, dia harus kuat. Di saat seperti ini yang bisa diandalkan hanyalah dirinya sendiri. Sama dengan kejadian ketika dia diculik.

​

Pintu diketuk dari luar, tanpa menunggu ijin darinya, seorang pelayan masuk. Eren membelalak ketika dia melihat Petra yang tersenyum padanya.

​

"Pagi, Eren. Sir Erwin mempercayakan dirimu padaku."

​

"Petra!"

​

Gadis itu tertawa melihat mata Eren yang berbinar.

​

"Sini kubantu untuk bebersih. Air hangat sudah siap di kamar mandi."

​

-----

​

"Kau tidak apa-apa, Eren? Kudengar apa yang terjadi semalam dari Sir Erwin. Dia menyuruhku untuk merawatmu agar kau tidak takut pada pelayan yang lain."

​

Eren menggeleng. Dia mengancingkan kemejanya sendiri sementara Petra melipat pakaian tidurnya.

​

"Aku tidak tahu apa aku berani untuk turun ke lapangan, tapi aku harus latihan agar menjadi kuat." Eren menatap Petra yang melongo keluar jendela.

​

"Kau lihat, para prajurit baru sedang berlatih. Mereka yang baru masuk belum tahu kau siapa. Mungkin kau bisa mencoba untuk berteman dengan mereka." Petra menunjuk kerumunan anggota baru yang berjejer di depan gerbang tinggi.

​

"Kau benar..." Mata Eren melihat seseorang berambut pirang, dia memicingkan mata. 'Armin? Tidak, tidak mungkin...' Eren menggelengkan kepalanya, tidak percaya.

​

-----

​

Eren menatap heran ketika beberapa dari para prajurit baru menghampirinya seperti dia seorang prajurit biasa. Tidak ada pandangan kurang ajar, tidak tampak niat untuk mencemooh dia.

​

"Connie, kau yakin tidak masalah bertarung denganku? Maksudku..." Eren melihat Marco. Remaja itu pasti lebih hebat darinya. Marco tersenyum balik.

​

"Berlatih dengan Connie saja. Aku akan melihat dari samping."

​

Connie menyeringai. "Tidak masalah, serang aku." Connie memasang kuda-kuda, dia bersiap ketika Eren berlari ke arahnya. Dirinya memblokir pisau Eren, berjengit sedikit dan mundur beberapa langkah. Connie terjatuh, Eren hampir tersungkur mengikutinya. Keduanya bertatapan sebelum tertawa. Marco bertepuk tangan.

​

"Maaf, aku tidak bermaksud-"

​

"Tenagamu boleh juga!" Connie berseru. Eren tersenyum, mengulurkan tangannya untuk membantu Connie.

​

"Jangan bersikap ramah padanya, Connie." Suara tidak jauh dari mereka membuat keduanya berpaling. Jean, Reiner, dan Bertholdt menatap Eren dengan pandangan kesal. Eren menggeram, tidak pernah bisa melupakan tampang Jean pada malam itu.

​

"Tunggu, kenapa kalian di grup ini? Apa yang terjadi?!" Connie menunjuk mereka satu per satu.

​

"Hentikan menunjuk orang, itu tidak sopan." Reiner menyilangkan tangannya.

​

"Kau, apa maksudnya ada di tempat ini? Apa tujuanmu? Kau tidak mungkin begitu saja keluar istana harem hanya untuk menjadi umpan!" Jean menarik kerah Eren. Eren terkesiap, mata mereka beradu. "Kau ini bikin sakit mata. Kau tidak pantas berada di sini. Tugasmu itu cukup untuk memuaskan Raja saja. Tahu tempatmu sedikit! Lucu sekali, harem di antara para prajurit perkasa. Apa maumu? Gegara kau kita sengsara."

Eren menggeram, menggenggam tangan Jean. "Memang salah siapa kau melakukan itu padaku?"

​

"Berhenti meliukkan tubuhmu seperti itu saat bermain pedang. Betulkan kain di pinggangmu itu." Jean meringis jijik. Dia mendorong Eren, membiarkan bocah bersurai coklat kehitaman itu jatuh.

​

Eren melongo tidak percaya. Bukan maksudnya untuk bergaya seperti mengundang. Bukan salahnya dia tidak tahu aturan berpakaian ala prajurit istana.

​

"Tunggu, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi jelas bahwa Eren serius untuk latihan." Connie mencoba membela.

​

Jean terkekeh. "Kau belum tahu siapa dirinya, Connie. Yah, nanti juga kau akan mendapat kabar angin... Tunggu saja." Jean mengangkat bahu, dia membalikkan badan, berjalan menjauhi harem istana itu.

​

"Apa-apaan mereka?" Connie menarik lengan Eren, matanya masih terarah kepada kelompok Jean.

​

"Kau tidak apa-apa, Eren?" Marco menepuk pundaknya.

​

Eren terkekeh lesu."Tidak apa, Connie, Marco. Jika kalian sering bersamaku mungkin kalian juga akan dijauhi mereka. Apa tidak sebaiknya kalian berbaur dengan yang lain?" Eren menarik dirinya dari tanah, menepuk bokongnya yang kotor karena tanah. Dia menghela nafas, pertikaian ada di mana pun. Bahkan di istana harem sekali pun, meskipun dia hampir tidak pernah berinteraksi dengan harem lainnya. Eren bisa mengingat tatapan yang diberikan harem yang lain ketika sang raja memberikannya sapu tangan. Hanya saja karena dia dijaga dengan ketat, tidak ada yang berani menyentuhnya. Sesaat, dia mulai merindukan ruangannya yang dulu. Mulai merindukan belaian tangan rajanya. Eren menggeleng kepala. Dia seharusnya melupakan dan membenci rajanya. Dia hanyalah satu dari sekian banyak harem yang dipilih dan dijadikan pemuas. Bila ingin keluar istana, dia harus tegar.

​

Sebuah tangan menepuk pundaknya, Eren melonjak kaget. Dia menengadah, melihat Erwin tersenyum padanya.

​

"Kau tidak apa-apa?"

​

"Sir, ya, aku baik-baik saja." Eren berkata dengan salut prajurit. Erwin mengangguk tampak puas bahwa bocah di hadapannya semakin tampak seperti prajurit pada umumnya.

​

"Baguslah. Aku ingin memberitahukan pada seluruh prajurit baru bahwa akan ada makan malam bersama nanti. Kau diikutsertakan." Erwin mengangguk, menunjukkan amplop putih berstempel kerjaan.

​

"Benarkah? Baiklah, aku akan ikut serta."

​

"Apa kita juga boleh ikut?" Connie menunjuk dirinya sendiri. Erwin mengangguk memperbolehkan.

​

"Tentu, maka dari itu kukatakan, ini untuk semua prajurit baru." Dia mengulang dengan tajam.

​

Connie meneguk ludah, dia mengangguk pelan.

​

"Kembalilah berlatih, kalian. Waktu masih banyak. Setelah ini ada demonstrasi menggunakan 3D Manuweaver Gear." Kedua bocah menangguk singkat, kembali kepada menu latihanmereka.

​

Erwin pergi meninggalkan keduanya, dia meremas amplop yang tengah dibawanya. Undangan langsung dari sang raja.

​

"Boleh juga kau, Levi..." Erwin menyungging tipis. Matanya melihat sekelebat rambut perak. Farlan masih mengintai harem rajanya. Sebagai penasihat, tentu Erwin bisa mengetahui siapa yang tengah mengintai. Dia berdecih, membuang muka ketika mata mereka bertemu.

​

Erwin meninggalkan lapangan latihan. Dia menuju kantornya, membuka pintu dan mendapati bocah berambut pirang sedang membaca buku yang diberikannya tadi pagi, tersenyum cerah.

​

"Ah, Sir Erwin. Apa benar buku ini untukku?" Pipinya memerahdan matanya berbinar.

​

"Tentu Armin, jika kau ingin belajar lebih lanjut mengenai dunia luar. Kau bisa menjadi seorang strategis yang handal. Buku itu untukmu."

"Ah, tapi, yang lain sibuk berlatih sedangkan aku disini... rasanya tidak enak."

​

"Jangan khawatir, kau akan bergabung dengan mereka nanti. Ada buku lain di perpustakaanku, kau boleh mengambilnya jika kau mau."

​

Armin mengangguk senang. Tidak dipungkiri bahwa dia sangat menyukai buku-buku yang diberikan Erwin. Pria itu mengelus surai keemasan bocah itu, Armin mendongak.

​

"Santai saja seperti ini rumahmu." Erwin duduk di kursinya, mengambil beberapa surat yang ditujukan padanya. Dia tersenyum membaca deretan nama para pelayan dan pengawal baru istana. Mikasa dan Armin, huh. Nama yang menarik.

​

Armin mengawasi ekspresi Erwin dari balik buku.

 

-----

 

 

Mikasa dan Shasha memasuki kamar kosong salah satu harem istana.

​

"Wah, sepertinya kamar ini tidak lagi ditempati." Sasha bergumam, membuka jendela kamar, membiarkan udara segar masuk.

​

"Siapa yang telah tinggal di sini sebelumnya?" Mikasa bergumam, menatap berkeliling mencari bukti. Petra melongo ke dalam kamar, mengecek pekerjaan pelayan baru.

​

"Ah kamar ini sudah tidak ditempati, tapi kalian bisa membersihkannya. Harem yang tinggal di sini sangat manis. Dia akan menjadi lelaki yang tangguh sekarang. Bergabung dengan para prajurit baru. Aku baru saja mengurusnya." Petra tersenyum.

​

"Benarkah harem bisa menjadi prajurit?!"

​

"Jika dia memungkinkan, walaupun sebenarnya keadaan itu cukup jarang. Raja tidak akan mengijinkan seenaknya." Petra mengambil ember penuh air dan menaruhnya di tengah ruangan. "Mari kubantu bereskan."

​

Mikasa mulai menyapu dalam diam. Sasha di belakangnya tengah mengoceh mengenai debu yang mulai menumpuk.

​

Petra tersenyum mendengarkan. "Apa di antara kalian ada yang jago memasak? Nanti malam akan ada makan malam bersama prajurit baru. Bila kalian jago masak, kusarankan kalian ambil bagian. Sebagai pelayan baru tentu hal itu akan menambah wawasan kalian dan cepatnya kenaikan pangkat. Banyak pelayan yang terampil karena keahliannya diangkat menjadi harem juga. Intinya kita di sini hanyalah milik Raja."

​

"Mikasa, kau dengar?!" Sasha menarik lengannya. Mikasa berpaling, mencoba bersikap tenang.

​

"Maaf, apa yang kau katakan?"

​

"Petra mengatakan nanti malam akan ada makan malam bersama semua prajurit baru!"

​

"Benar, Raja jarang sekali mengadakan pesta seperti itu hanya untuk prajurit baru. Kau bisa ke dapur untuk ambil bagian dalam menghidangkan atau mengolah makanan."

​

"Pasti akan banyak sekali makanan mewah! Daging sapi! Daging domba, daging-" Air liur Sasha menetes, membayangkan kemewahan makanan yang akan dihidangkan.

​

Petra terkekeh.

​

Mikasa berpikir keras. Makan malam mungkin ada baiknya untuk pertemuan yang direncanakan. Hal itu mungkin bisa menjadi kenyataan apabila dia menjadi salah satu pelayan yang menyuguhkan makanan bagi para prajurit.

​

"Ide bagus."

​

"Benar 'kan?" Sasha bahagia Mikasa setuju dengan rencananya yang lain.

​

"Kita harus menyusun strategi." Mikasa mengangguk.

​

Mereka berdua bersalaman, setuju untuk bekerja dengan tujuan yang sama sekali berbeda.

​

-----

​

Eren melepaskan sepatu bootsnya. Dia melihat gelang yang masih melingkar pada pergelangan kakinya, membekas ketika dia memakai boots. Dia mengusap bagian yang memerah, menghela nafas. Tanda bahwa dia merupakan harem tidak akan semudah itu dilepaskan. Gelang ini harus dipecahkan oleh sesuatu yang tajam. Eren menatap keluar jendela. Besok adalah hari dimana dia akan pindah ruangan dan tidur bersama prajurit yang lain dalam satu ruangan. Bagaimana dia bisa menyembunyikan gelang ini dari mata mereka...

​

Teriakan suara dari luar memanggil agar dia bersiap untuk makan malam bersama. Eren terburu-buru mengenakan sepatunya kembali.

​

TBC

© AsakuraHannah
bottom of page