top of page

Acerca de

Golden Rose

Genre: Drama Romance | Hurt Comfort | Alternate Universe | Harem

Rating: R21

Pairing: (mainly) Levi x Eren

Summary: Raja yang kontroversial, dengan budak laki-lakinya, dalam bayang-bayang kehidupan istana emas.

 

Author Note:

Harem berarti budak, istri simpanan, selir. Latarnya mengikuti gaya timur tengah di jaman abad ke-15, tapi tetep mengambil setting tempat dunia snk. Ada maria, rose, sina, dll. Lahannya tanah gersang, lautan luas, padang pasir.

​

Co-written by: Aratte & AsakuraHannah

Fanfik ini adalah hasil RP dan collab kami berdua. Paragraf demi paragraf kami tulis bergantian saling sambung menyambung hingga membentuk cerita.

​

Fanfik Golden Rose mendapatkan penghargaan "Best Hurt/Comfort MC Fanfiction" pada ajang penghargaan IFA 2014. Atas dukungannya, kami ucapkan terima kasih.

​

Disclaimer: Shingeki no Kyojin/ Attack on Titan belongs to Hajime Isayama. We take no profit. I don't own Shingeki no Kyojin, but this fanfiction is mine. © AsakuraHannah

Chp 1 | Chp 2 | Chp 3 | Chp 4 | Chp 5 | Chp 6 | Chp 7 | Chp 8 | Chp 9 | Chp 10 | Chp 11 | Chp 12 | Chp 13 [END]

Chapter 4: Mencari

​

Sang Raja menghilang di balik pilar-pilar emas, meninggalkan haremnya di bangku taman.

​

Sang harem membuka mulutnya, tidak ada suara yang keluar. Nafasnya masih memburu. Eren menunduk dengan wajah memerah, buru-buru mengenakan jubahnya yang sudah sobek. Di balik dedaunan dan pilar, para pengawal masih terus mengintip.

Eren kembali ke kamar untuk mendekam dengan perasaan campur aduk.

​

-----

​

Dunia bawah tanah adalah sisi gelap dunia atas. Dipengapi aroma busuk parit-parit buntu, sampah, dan orang-orang yang terlibat bisnis ilegal tanpa tersentuh hukum. Manusia dan senjata militer diperjual-belikan. Di pasar gelap, para pedagang budak berkumpul tanpa legalitas, menjajakan barang dagangan dalam barak-barak kecil berbau kandang hewan.

​

Armin, berwajah pucat, melihat takut-takut ke arah manusia di balik jeruji besi. Si penjual budak, menawarkan barang dagangannya dengan harga tinggi sambil berseru, "Hei, dia punya garis keturunan yang bagus." atau "Dia bisa memasak" atau "Dia masih perawan."

​

Pelipis Mikasa berdenyut kuat.

​

Di antara mereka yang terbilang 'manusiawi' dalam cara menjajakan dagangan, adalah Inocencio, yang menempatkan budak-budaknya dalam sangkar dengan pakaian cantik. Mikasa mengenal pria itu karena sebuah insiden kecil yang tidak bersahabat, dan karena insiden inilah, Mikasa bertemu Eren pertama kalinya.

​

Di bawah tenda pria itu, Mikasa menurunkan tudung jubahnya. "Dario Inocencio."

​

Dario, pria gendut dan berjanggut dengan jubah beraksen bulu rubah, tidak menyambut ramah gadis itu. Gadis yang di masa lalu 'gagal' ia culik untuk dijadikan budak.

​

"Mana teman kecilmu yang pernah menusuk kakiku dengan pisau?" hardiknya, kumis tebal itu bergerak-gerak seperti sungut macan.

​

"Tidakkah dia bersamamu? Harga Eren pasti lebih tinggi dari padaku."

​

"Bocah itu licin seperti belut, dan seganas singa betina. Aku tidak mungkin bisa mendapatkannya, dan aku tidak mau kakiku jadi sasaran mata pisaunya lagi, walau, well, Shabi anakku pasti senang mendapat mainan macam dia. Anakku suka yang ganas." Dario berdeham, mengintai Mikasa dengan matanya. "Dan kenapa kau kemari, nak? Ingin menawarkan dirimu sebagai barang jualanku? Ha! Kalau ingin menyerahkan diri harusnya sedari dulu, aku tidak perlu repot-repot menculik."

​

"Aku rela menjadi budak untuk menukar diriku dengan Eren, jika dia memang bersamamu sekarang."

​

Armin mendelik. "Mi-mikasa?!"

​

"Aku yakin Eren di sini. Kalau tidak bersamamu, mungkin dengan pedagang budak lainnya. Apa kau tahu?"

​

"Hm. Kalau Eren ada di sini bersamaku, dia sudah jadi mainan anakku. Dia tidak di sini lagi."

​

Mikasa menggertakkan gigi, mengambil sebilah pisau dari balik jubahnya.

​

Armin melompat ke depan gadis itu. "Sebentar, Mikasa! Aku tahu Eren di mana. Katakan sejujurnya padaku, Dario! Kau pasti tahu cara kerja memasukkan budak ke dalam istana." Armin memperlihatkan selebaran yang ia temukan pada senggokkan kayu.

​

Mata Mikasa membesar, direbutnya selebaran itu. Di situ terlukis nama dan wajah Eren dengan seksama. Rambutnya jauh lebih pendek, namun wajah beringas bocah itu tampak jelas. Eren menjadi budak istana.

​

"Armin, di mana kau temukan ini." Wajah gadis itu memucat, Berkeringat dingin memandang kertas di tangan. Berulang kali mengerjap, berharap informasi yang dituliskan berubah.

​

Dario menatap keduanya. "Kau harus membayarku untuk informasi, dan karena kau telah menuduhku." Seringainya menyungging licik.

​

"Kau bilang apa? Kau kira aku tidak tahu cara licikmu selama ini? Kau tahu bagaimana pertemuan kita terakhir kali? Katakan jalan kami untuk masuk istana, meskipun itu menjadi budak!"

​

Dario tergelak, dia tidak percaya bisa mendapatkan uang dengan mudahnya. Beranjak dari kursinya, dia menarik dagu gadis itu, menyeringai licik.

​

"Kau serius ingin menjadi budak istana? Kau ingin ditiduri rupanya? Baiklah, jika itu yang kau inginkan, berusahalah sebaik mungkin jika kau ingin naik pangkat. Akan ada pelatihan untuk menjadi pelayan Raja dalam beberapa hari lagi. Aku belum tahu jelasnya, namun pihak istana akan mengadakan pelatihan baca tulis dan memasak. Mereka akan disibukkan oleh pelatihan tersebut. Temanmu yang berambut pirang ini bisa masuk menjadi dokter istana jika dia mau."

​

Mikasa mengepal tangannya, dia melempar pandangan menusuk. Armin memegang pundaknya, berusaha menenangkan.

​

Ujian untuk menjadi prajurit istana dilangsungkan 5 tahun sekali. Mereka tidak cukup umur untuk mendaftar sekarang. Umur mereka belum 18 tahun!

"Akan kulakukan apa saja jika itu bisa membuatku lebih dekat dengan istana. Aku bisa mencari Eren, kemungkinan besar kita bisa membawanya pergi. Kau setuju dengan itu, Mikasa?" Armin menanyai Mikasa, menaruh pandangan cemas.

​

Mata mereka bertemu. Mikasa menyanggupinya.

​

"Baiklah, jadi pelayan jika itu satu-satunya jalan. Kita—Eren mungkin sudah melihat laut lebih dulu dari pada kita."

​

Keduanya mengangguk.

​

-----

​

Balkon Sang Raja dianugerahi pemandangan terbaik dalam negeri, mengarah ke laut yang merona dengan cakrawala biru keemasan.

​

Santapan sore menjelang malam Sang Raja dimulai dengan makanan pembuka sup dengan daun peterseli dan segelas kecil serbat, diiringi musik biola.

​

Erwin Smith, penasihat dan cendekiawan tampan bersurai emas duduk di seberangnya. Pria itu menahan diri untuk tidak menyentuh sendok sampai Sang Raja mengangkat gelasnya.

​

"Kau sahabatku, tidak perlu malu-malu," kata Levi, bernada bosan. "Makan saja. Abaikan tata krama."

​

Erwin mendengus. "Ya. Aku sedang berpikir."

​

"Aku tahu yang kau pikirkan. Aku sudah baca surat protesmu."

​

"Levi, kau adalah raja paling gemilang dari sepuluh generasi Ackerman. Tapi sudah belasan tahun menjabat, kau belum juga punya pendamping sah. Kau harus meneruskan keturunan."

​

"Aku tidak suka dengan peraturan meneruskan keturunan dan segala tetek bengeknya."

​

Erwin mencoba sabar. "Aku tahu kau punya harem favorit dan beberapa kriteria favorit. Tapi apa salahnya melakukan tugasmu? Semalam saja."

Levi mengecap pelan asin keju dalam mulutnya. "Heran kenapa penasihatku sangat ingin rajanya meniduri gadis-gadis. Kalau mau kau boleh ambil satu haremku."

​

Tahu Levi mulai tidak bisa diajak kompromi, Erwin menunduk, mengelap mulutnya dengan serbet sutra. "Kalau kau mengizinkannya, Levi. Aku ingin mengambil satu haremmu untuk menjadi milikku."

​

Levi tertawa kecil sebelum meneguk serbat. "Ada yang menarik perhatianmu selain Ilmuan Hanji?"

​

"Ada. Satu yang bermata kehijauan seperti permata zamrud, berambut cokelat gelap dan berdarah Eropa-Turki."

​

Levi membanting gelasnya sampai meja makan berguncang.

​

-----

​

Eren memandang tidak percaya. Dia disuguhi anggur istimewa dari istana. Apakah boleh, seorang harem sepertinya memiliki kemewahan yang sangat? Jarinya menyentuh gelas yang berat terbuat dari emas asli. Wangi anggur menguap dari gelas itu. Dia memandang Petra yang tersenyum pendek dan membungkuk, hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.

​

"Kenapa ini? Ada perayaan apa sampai aku disuguhi daging dan anggur?" Eren bertanya cemas, meneguk ludahnya.

​

Sudah bertahun-tahun rakyat tidak diperbolehkan makan daging. Tatanan piring yang disuguhkan seolah-olah ada suatu acara yang harus ia lalui.

Petra tersenyum simpul. "Kau adalah harem pilihan Yang Mulia Raja, sudah sepantasnya mendapat pelayanan hidangan semacam ini, dan--" Petra berdeham. "--sudah sepantasnya pula mendapat pelayanan perawatan mulai dari mandi, membersihkan tubuh, pijat dan sebagainya dari kami para pelayan harem."

​

Dahi Eren berkerut.

​

Petra melanjutkan, "Sang Raja mencintai kebersihan lebih dari segalanya. Kau harus mandi dua kali sehari, perawatan dua hari sekali, bulu-bulu dicukur dan kuku dipotong, revitalisasi dengan lulur susu dan rempah. Tubuhmu pegal? Panggil pelayan pijat! Mereka luar biasa dengan praktik batu panas yang bisa melenyapkan nyeri punggungmu. Pakaianmu harus selalu bersih, diberi wewangian rempah dan uap panas. Makananmu harus selalu sehat dan bercita rasa tinggi. Mungkin sebentar lagi kau harus punya pelayan dan pengawal pribadi pilihanmu."

​

Eren mulai pusing mendengar detilnya.

​

Eren meringis, dia harus sebersih apa di hadapan Raja? Jika tidak salah, dia bahkan sudah mandi beberapa jam yang lalu. Dia teringat ketika saat Sang Raja menyuruhnya untuk datang kamarnya, dia dimandikan kembali dan dibalur oleh berbagai wewangian yang membuatnya pusing.

​

"Aku tidak perlu dilayani sedemikian rupa. Aku sudah bersih... berkali-kali bersih dari yang sebelumnya bahkan." Eren mengernyitkan dahi. Dia meraih anggur, jantungnya berdegup lebih cepat. "Kau yakin kau tidak salah kirim?"

​

Eren memandang anggur itu. Matanya melihat sepasang kain satin untuk dikenakan saat tidur. Melihat Petra tersenyum singkat, Eren membawa anggurnya ke bibir. Dikecapnya anggur raja itu, rasanya manis dan asam, berpadu jadi satu. Seluruh tubuhnya memanas, wajahnya memerah.

​

"Petra... aku merasa aneh... panas..."

​

Minuman kali ini diisi oleh obat?

​

Eren menjatuhkan gelas, bunyi denting nyaring terdengar. Pandangan Eren buyar. Dia jatuh tepat di depan Petra yang berwajah panik. Eren mengerang tidak nyaman. Keinginan untuk disentuh dua kali lipat.

​

-----

​

Suasana hati Levi sedang teramat buruk sampai tak seekor burung pun mau terbang mendekati balkonnya.

​

Farlan Church, pengawal pribadi sekaligus sahabat lama Levi, berdiri tegap dengan jubah birunya di atas karpet berbau dupa.

​

"Aku butuh harem. Wanita. Yang mana sajalah," perintah Levi, ketus. "Dua atau tiga boleh kau persiapkan lalu dibawa ke mari."

​

"Maaf Levi--maksudku Yang Mulia Raja, baru siang ini kau bilang ingin harem laki-laki itu yang menemanimu."

​

"Tidak malam ini." Levi berdiri dari kursinya. "Kuserahkan pekerjaan ini padamu, Farlan. Bawakan yang terbaik saja. Yang menurutmu paling subur dan bisa cepat melahirkan beberapa ekor anakku."

​

Farlan menepuk jidatnya sendiri. "Levi, kau kira aku punya radar di kepala untuk mengetahui mana yang subur dan yang tidak? Tapi semua wanita haremmu adalah yang terbaik di seluruh negeri."

​

"Baguslah."

​

"Jadi malam ini siapa yang harus kujemput?"

​

-----

​

Eren menggeliat di ranjang, dia mencoba untuk menarik nafas normal. Sekujur tubuhnya bergetar, dia mengerang pelan. Apa yang telah diminumnya? Petra tampak tidak mengetahui soal campuran minuman, padahal dia yang telah membawakan minuman dan makanan yang dihidangkan. Suara ketuk membuatnya melonjak. Seseorang memasuki biliknya, Eren menggigit bibir. Dia mencoba untuk menarik tubuhnya bersandar pada dinding. Matanya mencoba melihat dalam gelap.

​

Beberapa pelayan wanita menarik tubuhnya untuk berdiri, memaksanya untuk mengenakan pakaian setelah membasuh tubuhnya yang berkeringat. Eren dipakaikan jubah panjang unik. Wajahnya dipoles sedemikian rupa, bau wangi disemprotkan pada sekujur tubuhnya seperti biasa. Eren digiring menuju kamar lain selain kamar Sang Raja. Wajahnya tampak panik, siapa yang menginginkan dirinya selain sang kuasa?

​

Wajah Eren pucat ketika pintu yang berornamen jauh lebih sederhana itu dibuka. Dirinya dijatuhkan tepat didepan kaki seseorang. Eren mengerang, melihat sepasang sepatu yang dikenalnya. Matanya bertemu dengan sang kelabu.

​

"Yang... Mulia?" Bingung melihat Sang Raja di kamar lain, Eren membenamkan wajahnya ke lantai. Dia sekilas melihat pakaiannya yang menyerupai perempuan.

​

Levi menarik napas dalam-dalam. Matanya sibuk menjilati kulit kecokelatan seperti roti manis dan bibir kemerahan seperti daging buah itu. Ah. Dia sudah kelewat lapar sampai memersonifikasikan si harem hijaunya dengan makanan. Dia bukan peminat laki-laki berpakaian wanita, tapi lihat bagaimana lekuk tubuh bocah hijau ini menarik mata, membuat setiap sendinya menegang ingin menerkam. Para pelayan harem lagi-lagi harus diberi hadiah yang sepantasnya! Bocah sialan ini tahu bagaimana membuat dirinya hilang kendali.

​

Levi mendecakkan lidah.

​

Eren disulap berpakaian ala penari-penari harem wanita yang menonjolkan erotisme. Bagian dadanya dibalut kamisol tipis yang terdiri dari untaian manik dan rumbai-rumbai permata yang menutupi sedikit perutnya. Bagian bawah tubuhnya dibalut oleh beberapa helai selendang yang membentuk seperti rok. Jalinan permata melilit pinggul dengan fabrik menerawang mulai dari bagian pangkal paha hingga ke tumit. Keseluruhannya berwarna hijau zamrud.

​

Sebagaimana mata bocah itu yang membara.

​

Kau puas sekarang Erwin Smith? Siapa yang bakal menyangka Eren sebagai laki-laki, kecuali mata Levi yang kelaparan. Kalaupun Erwin sampai mengecek ke dalam kamar Sang Raja, dia akan bertemu dengan tiga harem wanita yang menunggu di atas ranjangnya. Kau boleh pilih satu kalau tertarik.

​

Levi mundur perlahan ke ranjangnya, lalu memberi perintah, "Ke mari, Eren."

​

Eren segera beranjak dari lantai yang dingin. Setiap gerakannya menimbulkan bunyi. Jantung Eren berdegup kencang, rasanya dia tidak akan berakhir lama malam ini. Mata Levi menjilati setiap inci tubuhnya yang dipoles halus berkilat.

​

Dirinya jatuh kedalam pelukan Sang Raja, Eren dilontarkan di atas ranjang, telentang dalam keadaan lapar akan sentuhan. Minuman apa yang baru saja diteguknya?

​

"Tuanku, aku merasa panas sekali malam ini... Minuman... ada yang memberiku minuman aneh yang membuatku merasa panas..." Eren mendesah, melaporkan keganjilan. Mata Levi berkilat, dia bisa melihat jelas ereksi di sela kaki Eren.

​

Levi menahan tangan Eren di atas kepala, langsung menyerbu bibir itu dengan lumatan-lumatan. Eren mengerang di setiap gerak lidahnya, berusaha mengimbangi ciuman, tapi kalah dan membiarkan Sang Raja menguasai penuh isi mulutnya.

​

Tangan Levi sibuk meraba atas bawah, membuat bunyi gesekan fabrik dan rumbai manik yang bergemerincing. Tangan itu mencapai bagian bokong, memijat-mijat di sana. Rintihan Eren menguat, badan menggeliat nikmat kepadanya. Wajahnya antara malu dan takut, terlalu sugestif dan menggairahkan! Benar-benar mangsa sempurna.

​

Levi mengecup daun telinganya. "Kau tidak bisa lari lagi, harem milikku."

​

Eren mendesah, bibir Levi turun ke bawah, dia menghisap leher Eren, berusaha memenuhi rasa laparnya. Eren hanya bisa pasrah, bunyi gemerencing akibat sentuhan Levi membuat gairahnya bergejolak. Dia memalingkan wajah ke samping, merasakan bibir hangat dan basah itu turun perlahan ke dada. Tangan besar itu mengangkat bokongnya seraya menggesekkan pedang miliknya. Eren menarik nafas kaget, wajahnya memanas.

​

"Uuumhh yang... mulia..." rintihannya membuat gesekan semakin keras, membuat Raja semakin lapar untuk menyatukan diri, ingin bersentuhan kulit dengan kulit.

​

Levi menumpahkan minyak beraroma kembang dari leher sampai lutut Eren, membuat fabrik transparan yang masih melekat di tubuh itu semakin menerawang, mencetak setiap bagian kulitnya. Eren mendesah-desah bahkan ketika ia menjilat hanya dengan menggunakan mata. Sang Raja membalurkan minyak itu ke seluruh tubuh, manik-manik bergoyang ribut seiring geliatan Eren.

​

"Nikmat, Eren?"

​

"Hhhnngh... Yang Mulia... sentuhanmu... terasa membakar..." nafas Eren memburu, menginginkan lebih banyak sentuhan. Rasa lengket minyak itu membuatnya menggeliat tidak nyaman.

​

Rajanya membuka kaki bocah itu, menurunkan selendang yang masih melingkar pada pinggangnya. Matanya memandang tumpahan minyak di sekujur tubuhnya.

​

"Yang Mulia..." Eren berkutat ingin merasakan sensasi lain, ingin mendapat sentuhan lebih. "Aah sentuh aku seperti... waktu itu..." Dia mengerang, tidak percaya bahwa dirinya meminta sesuatu yang tidak biasa.

​

Seringai tipis tumbuh di wajah tampan Sang Raja. "Aku adalah rajamu, bocah. Kau berani memerintahku?" Mata gelap itu terlihat seperti pusara yang membara, tapi dingin menyoroti. "Lakukan sesuatu agar aku bersedia memenuhi permintaanmu."

​

Eren membelalak kaget, dia tidak sengaja memerintah rajanya untuk membangkitkan gairahnya sendiri. Eren mengulum bibirnya, satu-satunya yang diingat hanyalah bagian Levi menyentuh miliknya. Eren menggeliat sejenak, tangannya gemetar saat meraih kain sutra yang membalut pinggangnya. Bunyi gemerincing mengisi ruangan yang penuh ketegangan. Dia menarik nafas, menurunkan celananya dan meraih miliknya yang sudah menegang. Sedikit sentuhan membuat sekujur tubuhnya bergetar. Eren memekik kaget ketika Levi menjilat puncak organnya, otomatis kakinya terbuka lebar. Matanya tampak panik campur malu, melihat kemaluannya dikulum Sang Raja.

​

"Aah, geli, Yang Mulia..."

​

Levi mengintip wajah merah si harem di antara kedua kaki, menjilat bibirnya sendiri. "Kau sudah basah di sini." Dia mengecup lembut bagian pangkal paha halus, pelan-pelan naik ke atas menggoda perpanjangan Eren dengan mulut dan giginya. Bocah itu gemetar hebat, mencakar-cakari seprei yang sudah basah karena minyak. Kurang dari tiga menit ia sudah melepaskan cairannya. Percikannya mengenai jubah sutra Sang Raja.

Levi tidak keberatan bagaimanapun, melepas tali sabuk jubahnya yang kotor, membiarkannya terbuka.

​

Tubuh Eren menyentak di luar kendali. Dia membawa tangannya ke mulut, bermaksud untuk menggigiti. Hardikan Yang Mulia mengenai lukanya di tangan membuatnya berhenti. Rasa nikmatnya semakin menjadi. Dia mengerang, cairan putihnya masih meleleh dari kepala organnya. Eren menghela nafas bergetar, sekujur tubuhnya masih merasakan nikmat.

​

"Aann... ah... Le-... Yang Mulia..." Eren buru-buru mengatupkan mulutnya, hampir memanggil Sang Raja dengan nama aslinya.

​

Levi menarik napas lambat-lambat. Dia cukup menyukai bagaimana irama suara bocah ini bergetar ketika menyebut namanya.

Tapi tidak sekarang.

​

"Eren," bisiknya, menjilati liang telinga bocah itu. "Keluarkan lagi rintihanmu." Kedua tungkainya ia buka lebar. Jari berlumur minyak menyusup ke dalam liang hangatnya.

​

Eren memekik saat jari Levi masuk ke dalam pintunya yang sempit itu. Terakhir kali dia melakukannya, Eren dalam keadaan takut dan tidak berpengalaman. Saat ini, gairah berbicara di bawah pengaruh obat. Liang sempit itu berkedut meremas jari panjang Levi. Lenguhan Eren otomatis keluar saat Sang Raja mendorong masuk tanpa susah payah akibat minyak yang licin.

​

"Aaahnnn... Yang Mulia... Lagi-lagi memasukkan... jari ke dalam... mmhh..." Alis Eren berkerut, kacau dengan luapan gairah yang menumpuk pada perutnya. Jari-jari tersebut dibawa keluar masuk, merangsang bagian dalam, mencari sesuatu. Rasa aneh mulai bermunculan. Eren ingin jari itu berhenti, tapi dia tidak berani menolak lagi. Hanya rintihan dan lenguhan yang keluar dari mulutnya yang bengkak akibat lumatan Levi. Dia melonjak saat Levi menghujam jarinya lebih dalam, menyentuh sesuatu yang membuat dirinya masuk ke dalam luapan kenikmatan.

​

Levi berdecih. Erangan-erangan sensual itu! Si bocah hijau yang berusaha menahan nikmat tapi menggerakkan pinggulnya di luar kesadaran perlahan mengikis kesabaran Levi. Dua jarinya bergerak maju mundur menghujam tubuh yang meliuk, Levi menggosok tumpulnya sendiri di depan liang hangat itu, mencoba menekan masuk beserta jarinya.

​

"Aaaa... ah... Yang Mulia! Yang barusan itu..." Tubuh Eren menegang. Dia memekik kaget ketika Levi kembali menusukkan jarinya kepada titik nikmat haremnya. Jari-jari kakinya mengepal, merasakan kenikmatan yang membuat pandangannya berkunang-kunang. "Nnggh... Yang Mulia..."

​

Eren mencengkeram jubah Levi, mengerjapkan pandangan. Air liurnya menetes di sisi bibirnya, nafas tersengal dengan getaran hebat.

​

"Bocah, aku menginginkanmu. Sekarang. Juga." Levi menarik keluar jarinya, melihat kerutan mungil Eren sedikit membuka. Tumpulnya menekan bukaan kecil itu. Dagu Eren ditarik, bibirnya dilumat habis.

​

"Nngghh... ngggh!" Mata Eren membulat saat Levi menekan organnya masuk, rasa sakit tidak seperti sebelumnya, lagi, akibat obat perangsang. Dia meronta lemah, berusaha membuat jarak. Penglihatannya kabur sejenak. "S-sakit..." Eren mengerang. Dia membuka mulutnya, di sela-sela lumatan. Pada saat Levi mendorong masuk, Eren memekik, dipaksa membuka semakin besar.

​

Levi menggigit bibirnya sendiri. Dorongan apa yang membuat seluruh tubuhnya berhenti dan memenuhi permintaan harem hijaunya?

 

Dicengkeramnya telapak tangan Eren, kuat-kuat, sampai bocah itu memekik lemah. Ia terus mendorong masuk, merasakan setiap denyut dari bawah kulit hangat itu melebur bersamanya. Eren merintih, tersengal parah seperti hampir tak sadarkan diri.

​

"Lihat aku. Tatap aku," perintah Levi, membawa wajah Eren yang merona merah. "Jangan tutup matamu di hadapanku."

​

Eren merintih bersamaan dengan membuka matanya. Dia mencoba untuk fokus pada suara Levi, rasa sakitnya membuat dirinya kehilangan kesadaran sedikit demi sedikit.

​

"Nnghh... Yang... Mulia..."

​

Cengkeraman Eren pada jubah Levi melemah. Di saat mata mereka bertemu, Levi menunduk untuk memberikan kecupan singkat. Rasa bibir Sang Raja membuat pipi Eren memerah. Dia hendak memanggil sang kuasa ketika terdengar suara gaduh di luar ruangan.

​

Pintu terbuka lebar. Erwin Smith memaksa masuk melewati dua pengawal berbadan lebar. Dengan tegap ia berdiri di ambang pintu. Wajah tampan itu berkilat aneh seperti baru dipoles oleh cairan pembersih lantai, menyembunyikan setiap strategi gilanya. Ha! Ketahuan kau, Yang Mulia.

Levi mematung.

​

Penasihat, sahabat lama dan jenderal perang yang satu ini—pria ini paling tidak bisa diprediksi sedunia!

​

Eren pucat pasi, posisi mereka sangat tidak diperuntukkan untuk umum. Pandangan Eren dipenuhi bercak hitam, malu bercampur keletihan dan rasa nyeri di sela bokongnya--

​

"T-Tuanku...aku--" Eren memanggil saat Levi mengerang murka. Pandangannya buyar saat Levi mengalihkan perhatian balik kepadanya. Eren kehilangan kesadaran, yang terakhir kali dilihatnya adalah wajah cemas Sang Raja.

​

Pada malam itu, kediaman harem Levi Ackerman VI digelung badai tropis yang memporak-porandakan segala sudut interior emas mulia.

​

TBC

© AsakuraHannah
bottom of page