
Welcome To My Sanctuary
​"I wanna tell sweet stories for everyone who wishes to have sweet dreams"
Acerca de
Golden Rose
Genre: Drama Romance | Hurt Comfort | Alternate Universe | Harem
Rating: R21
Pairing: (mainly) Levi x Eren
Summary: Raja yang kontroversial, dengan budak laki-lakinya, dalam bayang-bayang kehidupan istana emas.
Author Note:
Harem berarti budak, istri simpanan, selir. Latarnya mengikuti gaya timur tengah di jaman abad ke-15, tapi tetep mengambil setting tempat dunia snk. Ada maria, rose, sina, dll. Lahannya tanah gersang, lautan luas, padang pasir.
​
Co-written by: Aratte & AsakuraHannah
Fanfik ini adalah hasil RP dan collab kami berdua. Paragraf demi paragraf kami tulis bergantian saling sambung menyambung hingga membentuk cerita.
​
Fanfik Golden Rose mendapatkan penghargaan "Best Hurt/Comfort MC Fanfiction" pada ajang penghargaan IFA 2014. Atas dukungannya, kami ucapkan terima kasih.
​
Disclaimer: Shingeki no Kyojin/ Attack on Titan belongs to Hajime Isayama. We take no profit. I don't own Shingeki no Kyojin, but this fanfiction is mine. © AsakuraHannah
Chp 1 | Chp 2 | Chp 3 | Chp 4 | Chp 5 | Chp 6 | Chp 7 | Chp 8 | Chp 9 | Chp 10 | Chp 11 | Chp 12 | Chp 13 [END]
A/N: Harap dimaklumi jika updatenya ga menentu ^^; Happy Eid Mubarak untuk yang merayakan :D Selamat bekerja kembali ^^ Vogel im Käfig… judulnya kebetulan menyatu sama OSTnya dan plotnya jadi begini… /lirik tempat lain/ kalau mau sambil dengerin lagunya pas adegan nganu, silahkan… /oi/ setelah dilihat sepertinya judulnya lebih cocok Vogel im Käfig… /terus ganti judul /gagitu/ Lalu… bayangkan saja Sawney dan Bean dalam wujud manusia biasa dan budak XD
​
Beware of explicit violence, rape (riren), dan some sick disturbing image… You've been warn… Yang ga mau baca rapenya langsung scroll sampe akhir aja...
Chapter 8: Vogel im Käfig
​
Eren melihat keadaan sekitarnya, gelap menyelubungi dirinya. Telinganya menangkap suara derap kaki. Gadis kecil yang berada di dalam pelukannya gemetar, Eren menangkup mulutnya dari belakang, menggeleng kepalanya agar dia tidak bersuara. Sepasang mata mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Mata itu tidak asing. Eren menutup matanya, memekik pelan ketika sang pengintai mendobrak masuk.
​
Eren membuka mata, memekik di dalam keheningan malam. Mata hijaunya melihat sekeliling, mengawasi. Udara lembab dari kamar yang tidak terurus membuatnya menggigil. Dia merangkul tubuhnya sendiri, mengangkat selimut tipis yang hanya mampu membalut setengah tubuhnya. Eren mendengar bunyi mencicit. Dia melihat ke bawah, mendapati seekor tikus berhasil mencuri remah roti kering. Pandangannya melunak melihat makhluk itu melesat keluar jeruji besi, kembali ke dalam lubang di tembok. Jadi teman barunya sekarang adalah tikus, dia mendengus.
​
Pikiran Eren kembali pada mimpinya. Dia menekan telapak tangannya pada jantungnya yang berdebar cepat. Eren menunduk, mencengkeram selimut. Sudah lama dia tidak bermimpi akan hal tersebut. Mikasa… kira-kira apa yang dia pikirkan saat ini. Sudah hampir lebih dari sebulan Eren tidak kunjung pulang. Tidak hanya Mikasa, Armin yang sudah dianggapnya saudara pasti cemas tidak karuan, mengingat wataknya yang selalu berpikir berlebihan. Kerinduan akan kebersamaan mereka mulai merayap masuk, Eren menghela nafas. Dia masih ingat perjanjian bahwa mereka akan melihat laut bersama. Mata hijau Eren menatap keluar jeruji. Seharusnya dia melihat laut bersama dengan kedua saudaranya, Eren sudah melihatnya lebih dulu saat pertama kali dia dituntun ke kamar raja. Menjadi harem sepertinya memiliki kelebihan tersendiri. Eren tidak menyesal telah memilih jalur lain yang ditawarkan Erwin. Mungkin saja suatu hari dia akan dengan mudah keluar istana. Bukan, dia bahkan sudah bebas sekarang, tinggal menunggu kebebasannya meninggalkan dunia. Eren tersenyum pahit.
​
Suara langkah kaki terdengar bersamaan dengan terbukanya jeruji samping. Eren melirik ke pintu jeruji. Hanji Zoe mencengkeram jeruji secara tiba-tiba, membuatnya melonjak kaget. Eren menahan nafas ketika wanita itu menyeringai kepadanya.
​
"Eren… kau ingat, kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merapikanmu menjadi seorang harem kesayangan Levi."
​
Eren merinding, tiba-tiba bersyukur dia di dalam jeruji. Mencengkeram selimutnya, dia merepet ke tembok, tidak mengeluarkan suara. Dia ingat Hanji merupakan salah satu yang memerintahkan para pelayan untuk memandikannya bahkan sempat menghardiknya. Sesaat, tampang Hanji seperti menyayangkan bahwa Eren berada di balik jeruji itu. Pintu dibuka oleh penjaga, Hanji buru-buru masuk ke dalam jeruji. Tangannya menyabar lengan Eren, disambut dengan pekikan ngeri.
​
"Sayang sekali, aku harus melihatmu dalam waktu yang singkat, Eren. Kau harus tahu bahwa aku kagum padamu. Kau membuat sang raja bertindak diluar dugaan." Hanji terkekeh, mengusap pipi mulus sang mantan harem. Eren memicingkan mata, membuat jarak dari sentuhan Hanji.
​
"Hanji, kita harus bergegas." Suara pengawal pribadi Levi terdengar dari luar jeruji. Eren menatap Farlan heran, dia menyungging tipis saat mengetahui bahwa kepalanya akan dipancung dalam waktu beberapa menit ke depan.
​
"Tunggu, sebelum aku mati, aku ingin tahu apa Mikasa baik-baik saja?!" Eren melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu benaknya.
​
Hanji melihat ke belakang, melempar pandangan yang bisa dikatakan takjub. Eren mendelik pada wanita itu, heran saat mata Hanji tampak semakin berbinar. "Hebat, kau tahu? Kemungkinan harem lain tidak akan seberani engkau untuk melempar pertanyaan seperti itu di saat detik menjelang kematian mereka!" Hanji memukul keras punggung Eren beberapa kali, membuatnya menyeringai nyeri. "Sebenarnya apa hubungan kalian? Bukan pacarmu, 'kan?"
​
"Jangan menggodanya, Hanji! Kau belum akan mati, Eren. Hanya menjalani pengadilan…" Farlan membocorkan rahasia. Dia menarik tangan Eren saat bocah keluar jeruji, memborgol keduanya.
​
"Pengadilan?" Eren membelalak bingung.
​
Farlan berhenti di depan pintu menuju penjara bawah tanah, menatap Eren dengan senyum. "Yah… kalau kau beruntung kau akan selamat." Dia mengangkat bahu dan melangkah keluar.
​
Pengadilan tampak lebih menegangkan melebihi yang pernah didengarnya dari banyak orang. Eren memandang orang-orang yang berkeliling di hadapannya. Farlan menyuruhnya berlutut di depan pilar, borgol yang membelenggu kedua tangannya. Beberapa orang berhenti berceloteh untuk mengawasi Eren.
​
"Sungguh suatu pemandangan yang menjijikan. Seorang harem mencoba kabur? Wajah sang raja mau ditaruh dimana?!" Salah seorang dari pengawal bertubuh besar berkata pada yang lain.
​
Eren menunduk, mendengar jelas makian mereka.
​
Pintu dibuka, pengawal masuk menyeret Mikasa. Eren mendongak dan spontan berdiri, lupa bahwa tangannya dibelenggu. Dia terduduk, menatap Mikasa yang memandang dirinya cemas.
​
"Eren!"
​
"Mikasa!"
​
Mikasa digiring ke samping Eren, dipaksa berlutut dan diikat dengan tiang di sebelahnya. Keduanya bertatapan, Eren menghela nafas lega melihat Mikasa masih hidup.
​
"Kau tidak apa-apa, Eren?" Mata gadis itu langsung tertuju pada memar di pipi akibat pukulan pengawal kemarin malam.
​
"Aku baik-baik saja. Ini tidak penting, kau harus mencoba untuk melarikan diri." bisik Eren pada saudarinya.
​
"Diam kalian. Sesama tahanan dilarang bicara!" Pengawal memukul ujung tombaknya pada lantai. Keduanya diam tepat saat raja memasuki pengadilan. Matanya langsung menatap Eren yang berlutut di hadapannya. Mata Mikasa menggelap, dia menggeram pada Levi.
​
"Raja, jangan terlalu dekat. Kau tidak tahu apa yang akan dilakukan mereka padamu." Farlan membungkuk.
​
"Biar saja, Farlan. Aku ingin kau membawa bocah yang kau sebut Armin itu. Kemarin dia hendak mendobrak pintu kamar penjara bawah tanah bukan?"
​
"Benar, Yang Mulia. Bocah itu ada di bawah pengawasan Perwira Erwin saat ini."
​
"Mana Erwin?" Levi melihat ke belakang.
​
Erwin berjalan memasuki ruangan dengan Armin di depannya. Mata biru bocah itu membulat melihat Eren dan Mikasa berlutut di depan sang raja. Tanpa pikir panjang, Armin berlari ke arah mereka.
​
"Mikasa! Eren!" memeluk kedua sahabatnya, Armin terisak lega. Setidaknya mereka bersama menghadapi ajal.
​
"Indah sekali…" Erwin terseyum menatap ketiga bocah yang saling berpelukan melepas kangen. Levi memutar bola matanya dan mendengus.
​
"Aku ingin kau menjelaskan apa artinya ini, Armin?" Levi mengangkat kakinya, menjorokkan Armin. Dia terkekeh melihat bokong Armin di udara.
​
"Y-Yang Mulia…" Armin meringis, mengusap bokongnya yang baru saja ditendang Levi.
​
"Yang Mulia, mohon maafkan ketiga anak itu…" Hanness, salah seorang pengawal paling jujur di istana melangkah maju dari tengah kerumunan.
​
"Hanness." Levi melirik pada pria itu. Dia tahu Hanness berhutang budi pada istana yang telah menyembuhkan istrinya dari penyakit menular yang mewabah dahulu kala. "Katakan alasanmu kenapa aku harus memaafkan mereka."
​
Armin, Mikasa, dan Eren melempar padangan cemas pada Hanness.
​
"Aku… ingin mereka menjadi bagian dari kerajaan ini karena mereka kuasuh dengan baik. Aku tahu Mikasa dan Armin mengejar Eren yang entah bagaimana masuk istana. Aku tidak menyangka bahwa Eren ternyata adalah harem anda. Yang kutahu perwira Erwin sudah memasukkan Eren menjadi salah satu prajurit baru."
​
Levi mengerling pandangan pada gadis bersurai hitam yang sedari tadi siap melompat ke arahnya. "Armin, jelaskan hubungan kalian."
​
Armin gemetar, dia meninju jantungnya, berdiri tegap hendak menjawab. Omongannya berubah menjadi pekikan ketika Levi menghujam lututnya tepat pada perut Armin.
​
"Armin!" Eren berteriak cemas.
​
"Berani sekali kau berdiri tegap di hadapanku. Berlutut!" Mata Levi berkilat berbahaya.
​
Armin terbatuk, memegangi perutnya. "Y-Yang Mulia… Mereka adalah sahabat baikku, Mikasa dan Eren adalah saudara. Kami tumbuh bersama di pinggir kali Shiganshina. Hanya saja suatu hari Eren menghilang dan kami mendengar kabar angin… Dia telah menjadi harem istana. Jadi…"
​
"Lalu kalian memutuskan untuk masuk istana karena ingin bersama dengan Eren? Enteng sekali." Levi menghela nafas.
​
"Levi, apa kau tidak ingin melepaskan mereka?"
​
"Kau berbicara begitu agar dapat mengambil Eren dariku, Erwin?" Levi berjalan mendekati mantan haremnya. Eren meringis ketika Levi mengepal rambutnya, tersenyum licik. "Apa kau sudah dipuaskan olehnya? Bahkan aku saja belum mendobrak bocah ini."
Eren merintih.
​
"Lepaskan dia!" Mikasa menjerit bersamaan dengan pukulan pada pipi Eren, menambahkan memar.
​
"Eren!" Armin ditarik oleh Erwin.
​
"Kau jangan ikut campur." Erwin mendekap Armin dalam pelukannya, membelai rambut pirang bocah itu dengan senyuman.
Armin menutup mata saat tendangan Levi diarahkan tepat pada mukanya.
​
Levi menyeringai. "Bagus sekali kau berlutut di depanku, aku jadi lebih mudah menendangmu." Dia menginjak kepala Eren, melempar pandangan bosan. Mata hijau yang kini memandang Levi penuh amarah membuat dada sang raja bergemuruh senang. Seperti mendapatkan sesuatu yang selama ini dicari di antara para haremnya. Kebanyakan dari mereka akan dengan mudah tersungkur di hadapannya, namun bocah ini… Bibirnya menyungging tipis.
​
"Mata yang bagus." Bisiknya.
​
"Levi… tolong ampuni mereka. Mereka hanya ingin bersama." Erwin angkat bicara.
​
Melirik Erwin yang tengah membelai Armin, Levi melempar pandangan menghina. "Jadi kau sudah bosan dengan Eren, Erwin? Kuberikan bocah itu padamu dan jadikanlah dia pemuas hasratmu."
​
"Raja, kuharap kau segera memberikan keputusan. Waktu makan siang akan segera tiba." Darius Zackly, hakim pengadilan menunggu titah raja.
​
"Aku sedang bersenang-senang." Levi mendelik padanya.
​
Zackly membungkuk rendah.
​
Rajanya berdecih, dia mengangkat kakinya dari kepala Eren.
​
"Mikasa, aku yakin kau lebih cocok menjadi prajurit daripada pelayan. Melihat bagaimana kau menghadapi pengawal kerajaan." Levi menatap Mikasa yang sedaritadi memberikan pandangan menghina. "Kau kuijinkan menjadi pelayan harem, melihat tujuanmu adalah hanya untuk bertemu saudaramu." Levi mengangguk kepada Petra yang berdiri di depan pintu masuk. Gadis itu buru-buru menghampiri Mikasa, dibantu para pengawal melepaskan borgolnya.
​
"Untuk Armin, sudah jelas dia akan ditangani Erwin sebagai budaknya."
​
Armin melempar pandangan ngeri.
​
Zacklay mencatat keputusan-keputusan yang diberikan Levi.
​
Levi menatap Eren yang menunduk. "Eren… kau adalah harem tidak berguna yang termakan godaan dan kata-kata manis Erwin. Kau tidak layak menjadi harem lagi. Rupanya menjadi harem membuatmu terlalu bebas. Kebetulan ada sangkar emas yang bagus untukmu. Kau akan tampil cantik dan menawan hanya untukku. Tidak akan ada yang boleh menyentuhmu selain rajamu ini." Levi mengangguk pada pengawal.
Mendengar hal itu, Hanji bersorak dan tersenyum ganjil. Setidaknya sangkar burung yang pernah dibuatnya untuk mengunci dua budak nakal istana terdahulu terpakai kembali setelah sekian tahun dibiarkan berdebu.
​
Zacklay mengetok palu, mengumandangkan titah raja ke seluruh kerajaan.
​
Tubuh Eren bergetar hebat. Dia kembali diseret dengan kasar keluar ruang pengadilan.
​
-----
​
Hanji memoles sangkar yang sudah dicat emas, dihias dengan mawar dan selimut empuk berbalut kain sutra emas pada dasar sangkar. Dia menghela nafas sembari menyebarkan kelopak mawar di atas kain sutra itu.
​
"Sawney… Bean… kalian harus senang ada orang yang akan memakai sangkar ini kembali setelah sekian lama." Hanji terkekeh pelan.
​
Erangan Eren membuatnya berpaling dari sangkar yang cukup untuk memasukkan dua orang budak. Hanji menatap Eren yang sudah dibalut sehelai terusan kain emas dengan mawar kuning besar menghiasi rambutnya.
​
"Cantik sekali, Eren. Berlakulah selayaknya piaraan yang baik."
​
"Aku tidak masalah jika dia ingin berlaku kasar, aku akan senang menghukumnya, tentu saja." Levi menyilang tangannya.
​
"Kau sadis, Levi."
​
"Tidak sepertimu yang mengurung dua orang budak untuk bersenggama di dalam sangkar sampai mereka mati kelelahan kau pecuti dari luar." Levi menggeleng kepalanya.
​
Mata Eren membulat ketika dia dilemparkan ke dalam sangkar. Dia buru-buru bangkit dari tumpukan selimut empuk berbalut sutra, menginjak kumpulan kelopak mawar yang diwarnai emas di bawah kakinya, berlari menuju pintu sangkar. Kakinya tersandung ujung kain yang dikenakannya, jatuh tepat di depan Levi.
​
"Kenapa… kenapa kau melakukan ini padaku…?" Eren menggeram, menatap Levi murka.
​
"Berterima kasihlah bahwa nyawamu tidak melayang, Eren." Levi mengambil kunci yang diberikan Hanji padanya. "Pintu sangkar ini hanya dapat dibuka olehku dan Farlan yang memegang kunci duplikat. Percuma saja kau mencoba untuk membukanya. Kuncinya tidak dapat ditiru dengan mudah."
​
Levi membalikkan badan dan pergi meninggalkannya.
​
Menggenggam jeruji sangkar, Eren terisak. "Kenapa tidak kau akhiri saja nyawaku…" Kepalan tangannya bergetar menahan amarah. Matanya menyapu sekeliling kamar. Kamar Levi… setidaknya dia tidak dipenjara kamar bawah tanah. Entah kapan Levi akan kembali ke kamarnya, Eren menyender pada jeruji besi, memikirkan bahwa ini tidak lebih baik daripada mati.
​
Menjelang tengah malam, pintu kamar terbuka. Levi masuk diikuti dayang-dayang. Sepertinya habis mandi. Eren terbangun dari tidurnya saat mendengar kegaduhan. Pintu sangkarnya dibuka, dia ditarik keluar dengan paksa, digiring ke kamar mandi raja. Sehelai pakaian yang dikenakannya dilucuti. Wewangian kembali disemprotkan padanya setelah badannya digosok bersih sampai kemerahan. Kini dia diberikan pakaian sutera yang tembus pandang. Pipi Eren memerah saat dia melihat refleksi dirinya pada kaca. Eren berusaha menutupi bagian tubuhnya yang privat. Selendang bergemerincing dibalut pada pinggangnya, rambutnya dihias oleh manik dan tiara berlian, gelang emas menghiasi pergelangan tangannya. Bibirnya dipoles kemerahan, Eren memekik ketika telinganya dijepit giwang emas. Dia mulai mengenali pakaian khas penari istana. Rompi pendek berwarna emas dikenakan di atas jubahnya yang menerawang. Eren meringis saat dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Pakaian tembus pandang yang dikenakan meyakinkannya bahwa dia masih laki-laki.
​
Para pelayan tersebut menggiring Eren kembali ke sangkar. Telinga bocah itu mendengar bunyi alat musik dimainkan di samping pintu masuk raja, di belakang tirai. Pintu sangkar kembali ditutup, mereka membungkuk hormat pada raja dan meninggalkan kamar.
​
Eren mengernyitkan dahi, membalikkan badan dan mendapati Levi sudah duduk menunggu di ranjang. Rajanya duduk bersila, berpangku tangan dengan wajah datar. Eren melihat cahaya berpendar di matanya yang selalu tampak mengintimidasi. Meneguk ludah, jemari Eren menggenggam jeruji sangkar.
​
"Menarilah Eren. Menarilah dengan indah di dalam sangkar untukku." Pandangan tajam Levi membuatnya menunduk.
​
"Aku tidak pernah menari sebelumnya, tuanku." Eren berbisik.
​
Senyum menghiasi bibir sang raja, senang melihat kecangunggungan Eren di hadapannya.
​
"Kau mau dihukum?" Pertanyaan itu cukup untuk mata hijau nan indah itu menatap langsung padanya dengan putus asa. "Patuhi perintahku."
​
Menghela nafas, Eren mulai menggerakkan pinggulnya, membuat gerakan tarian yang pernah dilihatnya di berbagai festival jalanan. Dia menutup mata hijau indah itu, telinganya mengikuti alunan musik. Gemerincing selendang dan gelang mengikuti gerak tubuhnya. Eren mengangkat paha, menggigit bibirnya yang merah dan menatap Levi. Matanya bertanya apakah dia sudah menari sesuai dengan keinginan rajanya.
​
Seolah puas melihat paha bocah itu terbuka, Levi menarik nafas, pandangan matanya tidak pernah meninggalkan pergerakan tubuh Eren. Mereka saling bertatapan, degup jantung Eren memompa lebih cepat ketika Levi beranjak turun dari ranjang.
​
Eren tidak berhenti menari saat Levi menyentuh sangkar. Dia menyapukan jemarinya pada dadanya, turun ke pinggul dan membelai pahanya yang terbuka. Gemerincing selendang yang dihentakkan sesuai dengan irama musik membuat harmoni tersendiri. Eren menjilat bibirnya yang kering. Mata Levi mengikuti. Pipi Eren merona merah, tatapan Levi terasa panas membakar perlahan kepercayaan dirinya.
Pintu sangkar dibuka. Levi menarik Eren ke dalam pelukannya. Eren memekik kaget, menarik nafas tertahan ketika bibir rajanya bertemu dengan miliknya.
​
"Mmh-" dia merasakan gigitan pada bibir bawah. Tangannya mencengkeram jubah tidur Levi.
​
Levi melepaskan tautan, menempelkan bibirnya pada telinga Eren. Tangannya mengusap memar yang masih menghiasi pipi Eren, tertutupi make-up tebal. Eren merintih saat lidah panas menjilat daun telinganya, dia mengatupkan mulut.
​
"Aku melakukan ini untuk menolongmu, Eren. Kau tahu, tidak semua orang bisa seberuntung kau, yang bisa lepas dari hukuman mati. Tidak pernah ada harem yang kabur kecuali kau, aku bersemangat sekali menyadari hal ini. Peraturan istana tidak semudah itu dilanggar, jangan menganggap enteng. Bila kau tidak menarik perhatianku, kau tidak akan selamat. Detik saat kulihat kau duduk berbaur dengan para prajurit baru, kau sudah mati. Bayangkan saja, satu lambaian tangan dariku, pengawal di belakangmu menusukkan tombak di tangannya tepat pada tengkukmu." mata Levi sedingin es. Eren bergidik ngeri di dalam pelukannya. "Berterima kasihlah pada rajamu ini. Bahkan seekor burung yang tidak bisa terbang mampu menghiasi sangkar emas yang lama kosong." Tanpa aba-aba, Levi langung merobek pakaian sutra yang dikenakan Eren.
​
Eren terkesiap. "Ah! Tuanku-"
​
Levi mendorongnya ke dasar sangkar yang empuk. "Jangan bermimpi Erwin akan muncul di depan pintu lagi. Dia tidak akan bisa masuk kalau pun ingin." Levi menarik dagu Eren, menggigit bibirnya yang bengkak akibat ciuman. Tangan Levi melepas selendang yang membalut pinggang Eren, menarik kedua tangan Eren dan mengikat kedua tangannya dengan selendang tersebut. Eren merintih saat tangan besar Levi menahan kedua pergelangan tangan ke atas kepalanya, mengikatnya pada jeruji sangkar. "Jangan coba-coba melawan." Pandangan yang dingin membuat tubuh Eren gemetar. Levi melucuti pakaiannya, tidak menginjinkan bocah di bawahnya mengenakan sehelai pakaian.
​
"T-tuanku…" Eren mengisak ketika jemari Levi meraih kejantanannya, memompanya tanpa ampun. Tidak ada tanda-tanda kesabaran yang sebelumnya dirasakan Eren saat menjadi harem. Saat ini dia tidak lebih dari seekor piaraan di dalam sangkar.
​
Seperti tidak sabar untuk menyantap hidangan di hadapannya, Levi membuka paksa paha Eren. Menumpahkan cairan sejenis minyak lengket tepat di atas selangkangan Eren, Levi melumasi miliknya yang sudah tegak berdiri sejak Eren membuka pahanya di tengah tarian. Levi menggigit bulatan kecil yang menghiasi dada Eren, menghisap kasar. Eren merintih, merasakan dua jemari Levi masuk ke dalam liangnya yang hangat tanpa sabar. Dia menggeleng kepalanya saat Eren berusaha menjauhkan diri.
​
"Bocah nakal, kau masih berani membangkang rajamu ini?" Pandangan menusuk tidak menunjukkan belas kasihan saat Eren menitikkan air mata. Levi memegang miliknya, memompa beberapa kali, kemudian menarik keluar dua jari yang melebarkan Eren. Dia menekan masuk, menahan paha Eren agar tetap terbuka.
​
"Aah… tuanku… kumohon… jangan…" Eren memohon dengan suara parau.
​
Levi mendobrak masuk. Tidak peduli dengan isakan yang diberikan bocah yang tengah ditindihnya. Lolongan Eren membuatnya semakin bersemangat.
​
"Tidak ada belas kasihan pada bocah yang mencoba kabur dari genggamanku. Aku tidak akan bersabar seperti dulu, Eren…" Levi menekan masuk dengan mudah dibantu oleh minyak pelumas.
​
"Aaakkh-" Jemari Eren mengepal, dia meringis menahan sakit yang luar biasa. Pipinya basah oleh air mata. Nafasnya tersengal, meneguk ludah beberapa kali untuk tidak menghiraukan rasa sakit. "S-sakit… Tuanku- jangan bergerak." Eren terbata-bata. Dia terkesiap ketika menerima tamparan di pipi kanannya.
​
"Jangan memerintahku." Levi menatap murka.
​
Eren menggigit bibirnya, mengerang keras saat merasakan Levi sudah sepenuhnya masuk. Tubuhnya bergetar hebat.
​
"Jangan begitu, Eren. Keluarkan suaramu, berkicaulah untukku. Kau milikku, kau harus menerima kenyataan ini. Kau adalah burung hiasan dalam sangkar, tidak lebih. Tugasmu adalah memuaskanku setiap malam. Jangan kau lupa itu." Levi mulai menarik keluar perpanjangannya sebelum kembali mendorong masuk.
​
Pekikan sakit dan isakan memenuhi ruangan. Levi puas dengan ketidakberdayaan Eren menolak kenikmatan yang bercampur dengan rasa nyeri yang luar biasa. Mencoba untuk menentang rasa nikmat sungguh tidak mungkin, untuk pertama kalinya Eren merasakan keinginan yang sangat untuk mengakhiri hidupnya ketimbang merasakan nikmat yang dipaksa untuk dirasakan. Permohonan untuk berhenti harus diterimanya dengan pukulan. Sampai pada titik dimana dia mulai merasakan nikmat yang terlalu besar untuk melepaskan harga diri dan berserah pada hasrat.
​
"Apa kau merasakan nikmat, Eren? Jangan mencoba untuk melawan rasa nikmat yang kau rasakan. Erangan dan tubuhmu berkata lain. Kau mulai mencapai puncakmu." Levi terkekeh.
​
Eren menggeliat, dia menggelengkan wajahnya, menolak kenikmatan yang merambat ke sekujur tubuhnya. "Tidak… tidak… aku-aah-AH!" Tumbukan pada titik nikmat di dalam yang terus dilakukan Levi membuat Eren melonjak, menggelinjang di tengah kenikmatan mencapai puncak. Melukis jubah emas Levi dengan cairan putih miliknya, tubuh Eren gemetar di tengah euphoria.
​
Levi menggeram pelan di saat Eren menjepitnya dengan kuat. Dia menarik keluar, memaksa Eren untuk membuka mulutnya sebelum mencapai puncak di dalam mulut bocah itu. Levi menjilat bibirnya ketika Eren membelalakkan mata menerima cairan putih kental. Otomatis dia terbatuk, mencoba untuk memuntahkan. Levi menekan jemarinya pada pipi Eren.
​
"Telan." Perintah Levi, mendelik tajam. Nafasnya memburu, senang melihat Eren terbatuk sambil menelan benihnya. Goyangan lidah Eren pada kepala penisnya membuat Levi menggeram rendah.
​
Beberapa saat setelah mencapai puncak kenikmatan, Levi mendorong Eren menjauh.
​
"Kau tidak perlu perlu menelan benihku di bawah sana." Levi menghela nafas puas.
​
Membebaskan tangan Eren yang terbelenggu selendang, Eren bergumam tidak jelas.
​
"Tidurlah… kau akan dipindahkan ke kamar kosong di seberang kamar ini. Farlan akan menjagamu di depan pintu." Levi melempar selendang itu ke kepala Eren.
​
Eren tidak berkata sepatah kata pun. Pipinya penuh memar dan basah oleh air mata. Pengawal dipanggil untuk mengangkat sangkar burung tersebut. Pelayan diperintahkan untuk membasuh tubuh Eren dan mengobati memar.
​
Malam itu Eren ditinggalkan di kamar kosong dengan Mikasa sebagai pelayannya. Seperti mimpi buruk yang dipaksa untuk dilihat, Mikasa mencengkeram jeruji sangkar yang dihiasi mawar, berlutut sambil mengoncang pintu sangkar tersebut. Mikasa menangis, ingin memeluk tubuh telanjang saudaranya untuk membuatnya hangat di dalam pelukannya. Mereka berdua dipisahkan oleh jeruji sangkar, air mata Eren mengering di tengah dinginnya kamar.
​
"Akan kubunuh dia…" Mikasa mencengkeram celemeknya.
​
Eren berbaring di tengah tumpukan mawar yang ditata sedemikian rupa oleh para pelayan. Matanya menatap kosong pada pintu sangkar yang hanya dapat dibuka oleh raja dan Farlan, tidak menyahuti saudarinya.
​
TBC
​
Entahlah, gue seneng nulisnya, ratingnya naik drastis… Maaf kalau ada yang ga tahan :'D Anyway, I hope you enjoy reading this as much as I enjoy writing ^^