top of page

Acerca de

Golden Rose

Genre: Drama Romance | Hurt Comfort | Alternate Universe | Harem

Rating: R21

Pairing: (mainly) Levi x Eren

Summary: Raja yang kontroversial, dengan budak laki-lakinya, dalam bayang-bayang kehidupan istana emas.

 

Author Note:

Harem berarti budak, istri simpanan, selir. Latarnya mengikuti gaya timur tengah di jaman abad ke-15, tapi tetep mengambil setting tempat dunia snk. Ada maria, rose, sina, dll. Lahannya tanah gersang, lautan luas, padang pasir.

​

Co-written by: Aratte & AsakuraHannah

Fanfik ini adalah hasil RP dan collab kami berdua. Paragraf demi paragraf kami tulis bergantian saling sambung menyambung hingga membentuk cerita.

​

Fanfik Golden Rose mendapatkan penghargaan "Best Hurt/Comfort MC Fanfiction" pada ajang penghargaan IFA 2014. Atas dukungannya, kami ucapkan terima kasih.

​

Disclaimer: Shingeki no Kyojin/ Attack on Titan belongs to Hajime Isayama. We take no profit. I don't own Shingeki no Kyojin, but this fanfiction is mine. © AsakuraHannah

Chp 1 | Chp 2 | Chp 3 | Chp 4 | Chp 5 | Chp 6 | Chp 7 | Chp 8 | Chp 9 | Chp 10 | Chp 11 | Chp 12 | Chp 13 [END]

70% chapter ini ditulis oleh AsakuraHannah, terutama di bagian Jean-Eren sampai selesai. Maafkan Aratte yang terlalu sibuk dengan proyek tulisan lainnya. FYI, selama ini Aratte selalu menulis bagian Levi, dan Asakura bagian Eren.

 

Chapter 5: Kebebasan

​

Eren mengerjap, dia melenguh sebelum mengernyitkan dahi. Bingung dengan keadaan kamar yang lain dari biasanya, Eren memandang sekeliling. Dirinya dibalut dengan kain satin, corak titan, makhluk sakral yang hampir punah pada jaman itu. Eren memandang jubah mahal yang dikenakannya, meraba sekilas sebelum beranjak bangun. Pikirannya langsung sibuk dengan apa yang baru saja dialaminya beberapa jam yang lalu. Dia menghela nafas panjang, menutup wajahnya yang merah padam.

​

"Astaga... pria pirang itu melihat hal senonoh yang dilakukan raja padaku. Ini akan menjadi perbincangan buruk di seluruh istana ini." Bocah berambut pirang itu bergumam sendiri. Bau menyan mendekati ruangannya. Dia mendongak melihat sepasang mata menatapnya dari balik pintu yang sedikit terbuka.

​

"Yang mulia?" Dia memanggil tidak yakin.

​

Dari balik sekat, sepasang mata biru menyambutnya. Erwin Smith tampan luar biasa dengan balutan beludru merah, dan sepiring makanan kecil buah-buahan di tangannya.

​

"Sir Erwin?" Eren, langsung memerah mukanya, menggeliat turun dari ranjang, ingin membungkuk.

​

Erwin tidak membiarkan lutut Eren menyentuh karpet. Dia mengangkat bocah itu, tersenyum. Telapak tangan yang lebar dan hangat dia letakkan secara lembut pada bahu Eren. "Aku datang ke mari memeriksa keadaanmu, Eren. Katanya tadi malam kau pingsan?" Tangan lainnya mengelus pipi Eren sekilas. "Apa yang kau rasakan, nak?"

​

Eren sampai terpana melihatnya.

​

Bocah itu menggeleng kepala, tidak sanggup memandang senyum Erwin yang bercahaya sedemikian rupa. Dia kembali duduk pada ranjangnya.

​

"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit nyeri pada bagian belakang... rasanya masih sedikit sakit..." Eren menggigit bibirnya dengan cemas. Bagaimana mungkin dia bisa memasukkan organ dewasa Levi secara keseluruhan tanpa rasa sakit? Apa mungkin pelumasnya kurang?

​

"Hanya saja... rasanya, prosesnya ada yang kurang semalam. Aku... rasanya sakit sekali... Tapi... Yang Mulia ingin menyatukan diri denganku. Aku ingin membuatnya senang."

​

Eren mengepal tangannya, menatap Erwin meminta petunjuk.

​

Erwin berlutut di depan Eren, menarik tangan harem hijau itu, meremasnya. Dia mengamati mata hijau membelalak terbuka, dan tersenyum. "Kau tidak perlu memaksakan diri. Kau bisa menolak Levi jika kau tidak menginginkannya, Eren."

​

"Aku... tidak mungkin mengatakan tidak padanya. Uhh... Sir Erwin? Lagipula... saat... sebelumnya dia membuat diriku merasa nikmat..." Eren menelan ludah. Erwin nampak sangat ramah, dia tidak tahu apa sang pria berbadan besar ini bisa menyimpan rahasia tumpahan hatinya.

​

"Tapi kau tidak perlu memaksakan diri kalau kau tidak bisa. Apa kau jatuh cinta pada rajamu? Kalau tidak, aku bisa mengupayakan cara bahkan supaya kau bisa keluar dari haremnya." Erwin tersenyum meyakinkan. "Daripada menjadi budak pemuas nafsu, apa kau tidak berminat menjadi pengawal istana yang terhormat? Kau laki-laki, dan kau kuat. Daripada Levi, kau bisa memilihku kalau kau mau, Eren."

​

Pupil Eren membesar, dia menatap Erwin seolah pria berambut kuning itu tumbuh satu kepala lagi.

​

"Aah... aku... hanya ingin bertemu dengan saudaraku... Armin dan Mikasa... Saat ini sudah beberapa minggu aku dibawa kemari tanpa mereka mendapat informasi dariku. Sir, kumohon! Kalau kau bisa membantuku setidaknya dengan itu. Katakan apa yang harus kulakukan agar aku bisa bertemu mereka!"

​

"Kau bilang kau akan membantuku, hanya bertemu dengan mereka aku tidak masalah bisa menjadi budak. Mereka satu-satunya keluargaku yang kutinggal tanpa berita." Eren berlutut, menatap Erwin penuh keinginan.

​

Erwin mengelus puncak kepala Eren. "Jadi keputusanmu? Keluarlah dari harem Levi dan ikut bersamaku. Kubawa kau bertemu dengan dua sahabatmu. Sepakat?"

​

"Aku... tapi... yang mulia Raja..." Eren mendadak bingung. Mengikuti Erwin berarti tidak lagi menjadi budak Levi. Tidak lagi merasakan sakitnya berusaha menyatukan diri dengan Levi. Tidak lagi harus sebersih itu sampai kulitnya bahkan serasa sehalus sutra. Eren merenung. Apa yang menahannya untuk menyetujui sang prajurit yang penuh wibawa dengan senyum yang ramah itu? Ketimbang sang Raja yang memiliki air muka kesal setiap saat.

​

"Aku... setuju..." Eren mendongak, senyum ramah Erwin sesaat tampak menyeringai gelap. Dia mengerjap dan melihat tampang ramah Erwin kembali terpampang. Mungkin itu hanya imajinasinya sesaat. Dia harus menenangkan detak jantungnya yang kian cepat.

​

-----

​

Angin laut sedang kencang, menghantam pintu teras kamar sang raja berulang-ulang. Levi membuka pintu itu lebar-lebar, gelisah berputar-putar di sekitar beranda.

​

"Farlan!" panggilnya kepada seorang pengawal pria yang berdiri di bawah balkonnya. "Di mana Eren?"

​

Sang pengawal berlari menghampiri rajanya. Dia menggeleng bingung.

​

"Aku tidak melihatnya sejak tadi. Kudengar rumor aneh bahwa harem kesayanganmu itu naik pangkat, entah mereka dapat gosip miring darimana."

​

"Gosip miring apa? Selidiki itu. Aku ingin Eren di kamarku sekarang. Farlan, bawa dia kepadaku."

​

"Baiklah Yang Mulia." Salutnya meninju jantung seperti mempersembahkan jantungnya sendiri pada sang kuasa. Farlan memutar badannya dan berjalan menyusuri koridor menuju kamar sang harem hijau.

​

Di tengah jalan dia berpapasan dengan Petra, yang berdiri dengan gelagat aneh mengintip ke dalam sebuah kamar yang seharusnya adalah kamar milik Eren.

​

Kamar itu sudah dikosongkan.

​

"Eren pindah ke mana? Apa kau tahu?" Pertanyaan dilontarkan kepada Petra yang berdiri pada pintu masuk.

​

Gadis itu menggeleng, dia tahu sesuatu namun tidak mau mengatakannya.

​

"Raja mencarinya, kau harus memberikan informasi kepadanya jika kau tahu sesuatu. Ikut aku menghadap yang mulia."

​

-----

​

Armin memandang istana di depan matanya. Saudara sahabatnya tampak dikelilingi aura hitam yang menekan. Dia bergidik sedikit dan berjalan mendekati papan pengumuman. Mata birunya melirik orang suruhan Dario yang berdecih.

​

"Terima kasih sudah mengantar kami." Katanya ragu-ragu.

​

Pria itu mengangguk singkat. Jika dia tidak menerima dua keping uang emas, dia tidak mungkin mau menerima kerjaan untuk menyeludupkan dua bocah ini ke dalam istana.

​

Jari Mikasa menelusuri sayembara yang ditempel, membaca beberapa kriteria.

​

"Mikasa, sebaiknya kita ikuti apa yang Dario katakan. Aku akan menjadi prajurit." Armin mencoba mengalihkan perhatian gadis itu.

​

Mengepalkan tangan, Mikasa berbisik, "Armin, apa Eren benar-benar ada di sini? Maksudku, kalau dia menjadi budak Raja, dia mestinya punya istana khusus! Aku punya feeling kalau gosip itu benar, kalau Raja adalah homoseks. Maka Eren-"

​

"Kau jangan membuatku cemas lebih dari ini." Armin menarik tangan Mikasa. "Kita hanya perlu mencobanya maka kita akan tahu."

​

Kata-kata Armin berhenti di situ.

​

Bayangan badan besar seorang prajurit menyelubungi tubuh mereka dari belakang. Armin dan Mikasa menoleh.

​

Tangan kekar menangkap tubuh ringkih Armin dari belakang. Armin menjerit nyaring.

​

"Hwaa lepaskan aku!"

​

"Ha! Kalian anak-anak dari mana!" Pria itu bergerak maju, mencoba menggendong Armin dengan satu tangan. Tangan lainnya meraih Mikasa.

 

"Pencuri lagi?! Ke mari dan menyerahkan diri sebelum kau dihukum!"

​

"Uwaaa! Ka-kami bukan pencuri, sir!" Armin meronta dalam pegangannya. "Kami datang ke mari untuk menc-bukan, kami ingin mendaftar jadi prajurit!"

​

Mikasa menurunkan tudung jubahnya. "Hannes? Apakah itu kau?"

​

Si pengawal terdiam. Akhirnya dia membuka mata lebar-lebar. "Mikasa? Armin?"

​

Sosok Hannes seorang perwira berseragam cokelat dengan logo mawar. Rambutnya kepirangan dengan mata biru. Pria itu pernah mengasuh mereka.

​

"Hannes? Kau masuk jadi prajurit di sini? Apa aku bisa masuk? Kami dengar Eren ditangkap dan dijadikan budak! Kumohon bantu kami untuk masuk istana!" Armin memohon.

​

Hannes berkerut bingung. "Eren? Eren tidak ditangkap. Dia ada di sana sedang berlatih pedang."

​

"Hannes, apa pun akan kulakukan apabila aku bisa menarik Eren keluar! Istana tidak butuh orang seperti dia, Eren terlalu penting bagi kami. Aku juga ikut jadi prajurit!" Mikasa memaksa, Armin tersentak kaget mendengarnya.

​

"Mikasa! Kau tidak seharusnya jadi prajurit wanita di istana! Aku ingin kau terhindar dari segala yang membuatmu terluka"

​

Hannes mengangkat tangan menghentikan perdebatan mereka.

​

"Tidak masalah kok. Semua bisa jadi prajurit. Kau bisa menemui Eren jika kau mau. Lihat. Itu dia." Hannes menunjuk santai ke salah satu calon prajurit yang sedang susah payah memutar pedang.

​

Mikasa dan Armin melongo.

​

-----

​

Eren bisa mengayunkan pedangnya, membelah angin dengan cepat. Erwin Smith tersenyum melihat gaya sang pemuda. Bocah yang awalnya dipakaikan sutra dan menjadi milik sang raja kini memakai seragam khusus bagi tim pelatihan. Dia mengangguk singkat saat Eren mempertanyakan gaya berpedangnya.

​

"Bagaimana aku bisa berlatih pedang sementara aku hanyalah... budak, dari awal." Dia memandang sekeliling dan bisa melihat beberapa prajurit melayangkan pandangan menghina. Beberapa dari mereka terus menerus memandang bokongnya dengan sorotan tidak sopan. Eren mengernyitkan dahi. Kain yang menutupi pinggulnya seharusnya terlihat rapi. Dia melihat ke belakang, mencoba memeriksa caranya berpakaian sebagai prajurit. Sesaat tangan Erwin memegang bokongnya, Eren melonjak kaget.

​

"S-Sir?!" Jantung Eren berdetak lebih keras.

​

Erwin hanya tersenyum singkat.

​

"Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja. Kau harus lebih tegap. Genggam pedangmu lebih kuat dan ayunkan sekuat tenaga, dengan sendirinya kau akan lebih leluasa bergerak jika kau rajin berlatih." Erwin berkata sambil mendorong bokong Eren ke depan, entah itu dimaksudkan untuk membetulkan posisi badannya yang cenderung membungkuk semenjak dia masuk istana harem atau kesempatan untuk menjamah tubuhnya, Eren hanya bisa mengangguk.

​

Tanpa diketahuinya, Mikasa yang menonton dari awal hampir menerjang masuk jika tidak ditahan Armin dan Hannes. Dia menggeram kepada si rambut pirang, Armin hanya menghela nafas.

​

"Mikasa, hentikan tindakanmu. Kita akan sulit masuk istana jika kau tidak bisa mengontrol emosimu. Dengar, aku punya strategi, aku akan jadi prajurit, dan kau akan masuk sebagai pelayan." Armin merinding saat Mikasa melayangkan pandangan mematikan. Dia bergidik. "Hanya jika kau mau!" Pekiknya.

​

Hannes berdeham meredam kericuhan. "Kurasa ada kesalahan informasi yang kalian terima. Beberapa hari lagi akan ada sayembara untuk penerimaan prajurit baru, jika kau ingin masuk, ini saat yang tepat. Entah apa yang terjadi padanya sebelum kalian masuk istana, tapi jika kau ingin menjadi prajurit, kurasa tidak masalah. Hanya saja, memang umur kalian sudah cukup?"

​

Armin berjengit saat Mikasa meraih baju Hannes, menariknya ke samping, menyembunyikan mereka dari incaran mata yang mengawasi.

​

"Eren menghilang begitu saja beberapa hari yang lalu, kami perlu informasi mengenai dia. Lalu kami membaca selebaran yang mengatakan bahwa dia telah menjadi harem istana. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, kami mencoba untuk menyelundupkan diri masuk istana yang membawanya masuk. Aku bisa menjadi prajurit atau pun pelayan, apa pun itu aku tidak peduli, Hannes. Aku ingin membawa Eren keluar!" Bibir gadis itu bergerak cepat, suara yang pelan dan rendah membuat suasana semakin serius.

​

Mikasa tidak ingin kehilangan saudara satu-satunya. Dia sudah cukup kehilangan keluarganya sejak kecil. Dia banyak mendengar rumor tidak baik mengenai istana. Tidak hanya itu, masa kecilnya dihancurkan oleh orang-orang istana yang mengincar dirinya dan Eren karena sebab yang tidak diketahuinya. Bila Eren tidak menyelamatkannya dulu, maka dia sudah tidak ada lagi di dunia ini.

​

Kepalan tangannya hampir mengoyak baju Hannes. Pria itu menggenggam tangan gadis yang lebih kecil darinya. Senyum lembut terlukis pada bibir sang perwira, rambut hitam Mikasa dibelai oleh figur bapak kedua bocah itu. Mikasa mendongak.

​

"Kau bisa menjadi pelayan untuk mempelajari seluk beluk istana sementara Armin menjadi prajurit untuk melatih diri dan menjadi otak strategi untuk melarikan kalian bertiga. Eren yang menjadi prajurit bisa melatih fisik untuk memperkuat dirinya. Aku yakin bila kalian bertiga bekerja sama, semuanya akan bisa diatasi."

​

Pikiran Armin terbaca oleh Hannes. Pria itu mengetahui insting dan strategi yang berjalan di dalam pikirannya. Dia pernah mengasuh ketiga bocah itu setelah kejadian yang memilukan bertahun-tahun yang lalu sebelum dia diangkat menjadi perwira. Mikasa mengangguk pelan dan Armin tersenyum lega. Mereka akan memasuki istana.

​

Ketiga orang yang sedang saling berbisik itu menarik perhatian sang penasihat istana.

​

Hannes tidak bisa berkata apa-apa ketika Erwin Smith menghampiri mereka.

​

Armin yang menangkap wajah pria itu untuk pertama kalinya. Dia tinggi, berperawakan bangsawan dan sangat tampan. Kalau sedang berada di desa, mungkin seluruh wanita akan berlutut menggelepar ke tanah memohon dinikahi.

​

"Dua orang ini prajurit baru, Sir Smith!" Hannes membuat salut. "Anak-anak ini pernah kuasuh di masa kecil, kau tidak perlu meragukan mereka. Yang ini bernama Armin, walau sakit-sakitan, dia sangat rajin berlatih. Dan gadis ini-"

​

Mikasa mengatupkan rahangnya keras-keras.

​

"-bernama Mikasa. Mungkin sulit dipercaya, tapi dia lebih kuat dari anak laki-laki mana pun di kampung kami." Hannes tertawa seperti bercanda. "Dia ingin menjadi prajurit jika diizinkan, tapi sebaiknya wanita tetap berada di dapur 'kan? Kurasa dia ingin menjadi feminin dengan cara melamar diri sebagai pelayan istana."

​

Erwin mengangkat alis matanya yang tebal, sejak tadi pandangannya hanya jatuh kepada Armin. "Bagus sekali. Kita butuh orang-orang sepertimu."

​

-----

​

Eren mengantuk. Hari itu dia sudah berlatih dan cukup menguras tenaga. Dia hampir terlelap ketika mendengar suara gaduh dari luar kamarnya. Matanya mengerjap bingung campur heran. Rasa takut menyelubungi pikirannya ketika tiga orang prajurit menyergap masuk. Remaja itu memekik ketika kepalanya ditutup dengan karung, menyelubungi tubuh atasnya sebelum diseret ke luar kamar.

​

Jeritan Eren teredam karung.

​

Karena gelap Eren hanya bisa mendengar suara. Hanya bisikan dan desisan. Nadanya penuh kebencian.

​

Banyak tangan itu menghempaskan tubuhnya ke dinding. Eren terkesiap, kemudian menjerit pelan saat kausnya tersingkap. Dingin udara dan tangan-tangan bergurat otot menghentikan jalan pikirannya.

​

"Harem milik raja yang sok sekali mau jadi prajurit!"

​

Eren membulatkan mata.

​

Karung yang menyelubungi kepalanya ditarik. Eren melihat sesosok pria bertubuh tegap, memandang dirinya dengan tatapan jijik. Eren mengenali wajahnya, si wajah kuda, Jean Kirschtein. Di sampingnya berdiri pria bertubuh besar berambut pirang dengan temannya yang paling tinggi. Eren tidak mengingat namanya.

​

"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyanya kesal.

​

Pertanyaannya tidak dijawab, dia hanya menerima tendangan pada wajahnya. Eren terbatuk, berusaha mengambil nafas.

​

"Jadi apa yang harus kita lakukan padanya?" ucap pria yang paling tinggi. "Kurasa kita lepaskan saja. Kalau ketahuan kita-"

​

"Beri pelajaran! Aku sudah lelah dengan bermacam-macam tekanan di dalam istana ini. Di saat kita hampir berhasil, dia datang! Kalau kau tak suka kau boleh pulang ke kampung halaman, Berth."

​

Punggung Eren terbanting sekali lagi ke dinding, pria yang berotot besar itu menatapnya intens.

​

"Apa-"

​

"Kau kabur dari istana harem dengan cara menjilat kaki Penasihat Erwin. Kau itu murahan, tahu?! Kau sadar tidak semua orang membicarakanmu?"

​

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan itu! Aku hanya ingin menjadi lebih kuat dan-" sekali lagi Eren mengerang bersamaan dengan pukulan yang diterimanya pada ulu hati. Tubuhnya menggeliat, tersungkur dengan memegangi ulu hatinya. Eren merasakan jambakan pada rambutnya yang sudah dipotong lebih pendek. Pria berwajah kuda itu meringis persis seperti hewan yang ditunggangi oleh perwira-perwira berwibawa istana. Sesaat lubuk hati Eren ingin menertawakan wajahnya. Di saat Jean mendekatkan wajahnya, Eren merenggut dan meludahinya.

​

"Aku bukan murahan! Aku diculik tanpa kemauanku!"

​

Kemarahannya semakin menjadi ketika Jean membenamkan wajah sang remaja pada tanah kotor. Dia merasakan kerasnya sol sepatu bot menginjak kepalanya. Eren hanya bisa mengerang dan berusaha menjauh.

​

"Apa aku terlihat seperti orang yang peduli? Kau membuatku tertawa. Sungguh lucu, kau lebih rendah bahkan dari harem istana lainnya yang dengan rela pindah tangan dengan mudah."

​

Sorot mata benci menyala pada mata Eren. Jean bisa melihat dengan jelas api yang membara di saat dia mengangkat kakinya. Tatapan Eren penuh kebencian yang menyulut sesuatu di dalam benaknya.

​

Insting binatang.

​

Ujung bibir sang wajah kuda itu tertarik ke atas, menyungging tipis. "Tatapan kebencian yang bagus. Mungkin ada bagusnya juga harem bekas raja masuk ke bagian pelatihan prajurit. Kau bisa menjadi alat pelepas stress." Jean menarik wajah Eren, meremas pipinya yang kotor.

​

Eren mendesis seperti ular saat pria yang lebih tinggi darinya itu mendekatkan wajahnya. Matanya membesar ketika Jean menggigit bibirnya dengan kasar. Mencoba membebaskan diri dari pria yang seenaknya mencium bibirnya, Eren mengerang, mendorong Jean dengan susah payah. Cengkeraman pemuda itu sangat kuat, panik melanda pikirannya.

​

Dicium orang lain selain sang Raja. Eren menutup mata.

​

"Lepas-!" Dia menghantam kepalannya pada kepala Jean. Kedua temannya memisahkan mereka.

​

"Jean, kau gila! Apa yang kau pikirkan!" Pemuda yang bernama Berthold itu memegangi Eren ketika dia hendak menerjang Jean.

​

"Dia itu sudah biasa ditiduri, apa yang kau takutkan, Bert? Aku heran kenapa kau tetap berada disini. Bantu aku, Reiner." Jean terkekeh memandang sang mantan Harem yang berontak berusaha membebaskan diri. Celana panjang putih khas prajuritnya dikoyak Jean setelah Reiner memaksa membuka ikat pinggang dan kain pelindung di sekeliling pinggang Eren.

​

"Tunggu! Apa yang kau lakukan?! Raja bahkan belum menyentuhku! Hentikan!" Mulut Eren dibungkam oleh Berthold yang ketakutan. Dia menoleh ke sana ke mari, khawatir apabila ada yang mendengar jeritan Eren.

​

"Raja belum menyentuhmu? Kau dengar itu, Reiner? Ini kesempatan emas! Bila Raja mengetahui hal ini, dia akan membuang bocah ini keluar istana karena kotor. Kau tahu sang Raja sangat bersih. Atau mungkin dia akan dipancung karena dia ketahuan melarikan diri." Jean tertawa terbahak-bahak dengan imajinasinya sendiri. Eren memandang sang wajah kuda tidak percaya.

​

Retsleting celana diturunkan. Eren memekik, lengannya ditahan Reiner sementara Berthold bersikeras membungkam mulutnya.

​

"Diam kau, jangan buat kita ketahuan, bodoh!" Pria jangkung itu mencubit bibir Eren untuk tetap tertutup. Erangan menjadi desahan ketika Jean menurunkan celananya.

​

"Baringkan dia di tanah." Senyum sadis terlukis pada bibirnya, Eren ditahan oleh kedua pria yang membantu rencana busuk Jean. Kaki Eren dibuka lebar, memamerkan kerutan mungil di tengah himpitan pipi bokong yang mulus. Jean menjilat bibirnya yang kering, nafasnya memburu memandang sang mantan harem terbaring di depan matanya. Pandangan jijik campur benci terlukis pada bola hijau zamrud yang indah. Tidak heran sang raja menaruh perhatian padanya. Jean bisa merasakan miliknya berdenyut. Sesaat celananya terasa semakin sempit.

​

"Aku perlu melonggarkan celanaku." Desahnya sambil menurunkan retsleting celana. Berthold memandang Jean tidak percaya.

​

"Kau serius, Jean?! Dengar, apabila seseorang datang dan melihat…"

​

"Diam kau, Bert. Jika kau tidak suka, pergi saja dari sini. Tidak seorang pun yang akan percaya akan apa yang kau katakan. Kita prajurit teladan, mereka akan menganggap kau gila apabila kau menceritakan kejadian ini pada mereka." Jean menggeleng kepala seperti kecewa. Senyum kemenangan merekah ketika Berthold terdiam. Pria jangkung itu lengah, Eren menggigit jarinya yang berada di depan mulutnya.

​

"Sial kau! Aku mencoba menghentikan Jean, tapi kau-"

​

Pukulan melayang mengenai pipi Eren. Sang mantan harem terisak.

​

"Hentikan! Apa salahku pada kalian?! Aku hanya ingin bebas!"

​

Jean tertawa.

​

"Tidak ada kata bebas bagi harem sepertimu. Seumur hidup kau tidak akan pernah bebas jika sudah masuk istana harem. Keluar istana pun kau akan dianggap kotor oleh masyarakat. Yah… tidak pernah ada seorang harem yang kabur atau pun keluar dari istana, aku yakin kau perlu tahu yang satu itu." Jean berlutut tepat di depan Eren.

​

Mata Eren membulat, dia melakukan usaha pemberontakan yang sia-sia. Eren menggeleng dan mengerang ketika Jean menekan kepala penisnya pada pintu masuk yang mungil itu. Dirinya berkutat panik.

​

"Tidak, hentikan! Hentikan! Aku tidak mau! Yang Mulia! LEVI!" pekikan Eren dibungkam. Dia merasakan dorongan paksa pada lubang mungilnya. Eren menutup mata, menggigit bibir.

​

"Berani sekali kalian."

​

Suara familiar membuatnya terkejut.

​

Erwin Smith, berdiri tidak jauh dari semak-semak tempat mereka beraksi. Dia melipat tangannya di depan dada, memandang satu per satu wajah mereka yang pucat pasi.

​

-----

​​

Porselen kaca membentur dinding berbatu mirah, kemudian terburai pecah dengan warna tujuh rupa. Sayatan belingnya hampir mengenai sisi wajah Petra Ral, dan gadis itu melolong kaget.

​

Farlan menghela nafas.

​

Emosi Levi kacau balau. Suhu kamarnya sepanas dapur dengan berpanci-panci sup mendidih. Lebih parah dari itu, tatapan matanya seolah bisa membunuhmu kapan saja.

​

"Ini siasat Erwin, pasti!" kata Farlan. "Sudah kubilang kan, Levi? Sedari awal dia punya maksud tertentu menjadi penasihat istanamu."

​

Levi diam sejenak.

​

Sementara Petra memunguti pecahan beling di lantai, diam-diam ia mencuri dengar. Prihatin dan takut mengisi raut mukanya.

​

"Jadi apa menurutmu yang harus kulakukan, Farlan yang bijak? Haruskah aku menendang Erwin dari istana dan mengangkatmu jadi penasihatku?"

Farlan mendengus. "Kau bisa salah paham lagi. Tidak pernah terlintas di benakku untuk jadi penasihat atau orang terhebat di negerimu. Biarkan aku tetap jadi sahabatmu dan jendral perang."

​

Levi menatap tidak percaya.

​

"Tapi dengar, Levi, tolong kontrol emosimu. Berita ini sudah menyebar ke mana-mana. Raja hilang akal karena kehilangan seorang harem. Dan sebelum kau marah membanting benda-benda di kamarmu, mereka sudah membuat gosip tentang perseteruanmu dengan Erwin yang bahkan tidak pernah terjadi!"

​

Levi beranjak dari ranjang, membuka lebar-lebar pintu teras menuju keluar. Dingin udara laut di malam hari tidak merubah raut keras kemarahannya.

Farlan mengikuti di belakang. "Levi?"

​

"Farlan, aku ingin kau melakukan sesuatu besok pagi. Diam-diam. Tak boleh seorang pun tahu."

​

TBC

© AsakuraHannah
bottom of page